Perekonomian di pedesaan dan daerah terpencil masih didominasi oleh usaha-usaha skala mikro dan kecil. Pelaku usahanya tak jauh seperti para petani, buruh tani, pedagang sarana produksi dan hasil pertanian sampai industri rumah tangga.
Para pelaku usaha tersebut ternyata masih dihadapkan pada permasalahan klasik, yaitu terbatasnya ketersediaan modal.
Salah satu lembaga keuangan yang mampu masuk ke sektor tersebut memang sangat terbatas di Indonesia ini. Ketika berbicara industri perbankan, memang beberapa bank seperti BRI, Danamon hingga BTPN maupun Bank Perkreditan Rakyat (BPR) telah ikut berpartisipasi mengenalkan kredit mikro. Namun, masyarakat pedesaan masih banyak yang merasa takut mendengar kata bank. Alhasil peranan bank-bank tersebut bisa dikatakan belum maksimal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dan LKM ini ternyata tak luput dari partai politik, sebut saja Partai Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN) sampai Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berlomba-lomba memberikan pinjaman lunak kepada masyarakat di pedesaan tersebut.
Dikutip detikFinance, Rabu (9/5/2012) dari situs resmi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ternyata partai besutan Nurmahmudi Isma'il ini baru saja berhasil mendirikan 4.000 UMKM baru di Jawa Tengah saja. Bidang Pengembangan Ekonomi dan Kewirausahaan (PEDK) DPW PKS memiliki program nasional pembentukan satu juta Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM) melalui kewirausahaan mandiri.
PKS juga segera membentuk Asosiasi Jasa Keuangan Mikro Sejahtera (Akses), pemberdayaan PKL di masyarakat dan program One Family One Business.
Bagaimana dengan PAN? Partai yang kini dipimpin oleh Menteri Perekonomian Hatta Rajasa mengangkat para wirausaha muda. DPP PAN merogoh koceknya sendiri untuk program Wirausaha Mapan (Maju Bersama PAN). Dana sebesar Rp 25 miliar ditujukan untuk calon wirausahawan muda di 11 kota.
"Modal yang disiapkan sekitar Rp 25 miliar dari PAN semua dan tidak melibatkan perbankan, tanpa ada embel-embel politik,β ungkap Ketua DPP PAN Azwar Abubakar beberapa waktu lalu.
Di setiap kota, PAN akan menjaring 500 calon wirausaha untuk mengikuti program Mapan. Jika lulus seleksi, masing-masing akan mendapatkan pinjaman modal sebesar Rp 5 juta yang ditargetkan bergulir di antara peserta program itu.
Untuk Partai Golkar cukup berbeda. Partai yang dipimpin Aburizal Bakrie ini telah lebih dulu meluncurkan lembaga pembiayaan mikro dengan nama PT Bakrie Micro Finance Indonesia (BMF).
BMF mulai diresmikan pengoperasiannya di Desa Kalangsari, Karawang, Jawa Barat oleh generasi Keluarga Bakrie ke-2 yang tertua, Aburizal Bakrie.
Aburizal atau Ical menerangkan, BMF adalah murni merupakan program kemanusiaan dan bukan sebuah bisnis baru yang profit center dari Kelompok Usaha Bakrie (KUB). Kalaupun ada sistem bagi hasil yang ringan, itu sekedar untuk biaya operasional.
Β
Ia menegaskan, dana yang sudah dikeluarkan tidak akan ditarik kembali. KUB juga tidak akan mengambil keuntungan dalam bentuk apa pun dari program BMF.
Bagaimana partai-partai lain? Apakah ini sebuah 'kedok' atau modus money politics jelang 2014? Silakan dinilai sendiri. (/)











































