Bank Indonesia (BI) mengalami defisit anggaran hingga Rp 25,14 triliun di 2011. Mengapa anggaran BI bisa 'jebol' sebanyak itu?
Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution dalam catatannya di laporan keuangan BI 2011 membeberkan alasan mengapa anggarannya bisa mengalami 'rugi' besar.
"Dinamika perkembangan ekonomi yang diwarnai derasnya arus modal asing dan besarnya akses likuiditas perbankan, mendorong BI mengambil langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan optimalisasi pengeloaan likuiditas di pasar uang domestik," jelas Darmin dalam publikasinya seperti dikutip detikFinance, Senin (4/5/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena itu, Darmin menjelaskan langkah tersebut berpengaruh pada peningkatan beban pengendalian moneter sebagaimana tercermin dari tingginya beban pengendalian moneter tahuni 2011 yang mencapai Rp 30,4 triliun. "Kondisi tersebut menyebabkan defisit BI sebesar Rp 25,2 triliun. Beban terbesar lainnya adalah jasa giro kepada pemerintah sebesar Rp 4,7 triliun," ungkapnya.
Selain itu, Darmin menjelaskan BI mengalami kerugian selisih kurs karena penjabaran transaksi valuta asing ke dalam rupiah sebesar Rp 11,7 triliun yang merupakan konsekuensi dari pelaksanaan kebijakan BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
"Kerugian selisih kurs tersebut merupakan bagian dan sebagai pengurang dari penerimaan pengelolaan moneter sehingga pada tahun 2011 tercatat sebesar Rp 16,0 triliun. Sedangkan tahun 2010 penerimaan pengelolaan moneter tercatat sebesar Rp 4,5 triliun termasuk didalamnya kerugian selisih kurs Rp 16,4 triliun," papar Darmin.
Lebih jauh Darmin mengklaim dari sisi kerugian alias defisit anggaran BI justru mampu mengendalikan inflasi dan nilai tukar rupiah.
"Inflasi pada tahun 2011 sebesar 3,79% menururn tajam dari 2010 yang sebesar 6,96%. Sedangkan nilai tukar rupiah rata-rata mengalami apresiasi 3,56% dibandingkan rata-rata tahun 2010," tutup Darmin.
Seperti diketahui, BI mencatatkan defisit Rp 25,14 triliun atau lebih tinggi dari tahun 2010 yang hanya defisit Rp 21,15 triliun.
Ongkos terbesar BI memang terlihat dari pos pengendalian moneter yang mencapai Rp 30,35 triliun yang jauh lebih tinggi dari periode tahun 2010 yang hanya sebesar Rp 24,40 triliun. Pos pengendalian moneter ini merupakan operasi moneter BI dalam mengendalikan nilai tukar rupiah seperti melakukan intervensi. (dru/dnl)











































