2-3 Tahun Mendatang, Kredit ke Sektor Riil Tetap Rendah

2-3 Tahun Mendatang, Kredit ke Sektor Riil Tetap Rendah

- detikFinance
Kamis, 19 Agu 2004 14:55 WIB
Jakarta - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Hartadi A. Sarwono, memperkirakan dalam dua hingga tiga tahun mendatang, penyaluran kredit dari perbankan ke sektor riil masih tetap rendah. Diperkirakan, rasio pinjaman terhadap dana pihak ketiga (loan to deposit ratio/LDR) dalam 2-3 tahun ke depan di level 65 persen, dibanding posisi per Juni 2004 di level 46,4 persen.Oleh karena itu, untuk ke depan, kebutuhan pembiayaan tidak lagi tergantung pada perbankan, tapi juga lembaga lain di luar bank. Untuk itu, Hartadi berharap peran pembiayaan diambil oleh pasar modal, dimana pasar modal bisa membiayai kegiatan investasi jangka panjang."Kalau kita lihat dari posisi Desember 2003-Juni 2004, peningkatan LDR sangat rendah dari 43,2 persen menjadi 46,4 persen. Karena itu, dua hingga tiga tahun mendatang, LDR paling-paling tumbuh hanya sampai 65 persen. Jadi perlu pembiayaan di luar bank seperti capital market (pasar modal)," papar Hartadi usai seminar "Arah Kebijakan Fiskal dan Moneter Tahun 2005" di gedung BI, Jakarta Pusat, Kamis (19/8/2004).Diakui Hartadi, saat ini indeks harga saham gabungan (IHSG) di pasar modal memang sudah mengalami peningkatan. Namun sayangnya kepercayaan masyarakat untuk menanamkan inevstasi di pasar modal masih tetap rendah. Oleh karena itu, BI sebagai otoritas moneter akan mendukung kebijakan di pasar modal. "Tapi selanjutnya yang harus dilakukan adalah bagaimana infrastruktur di pasar modal dibenahi agar bisa menjadi sumber pembiayaan," tambahnya.Selain mengharapkan peran aktif pasar modal dalam pembiayaan sektor riil, Hartadi juga menegaskan upaya BI untuk menjaga iklim investasi di tengah meningkatnya suku bunga dan tekanan terhadap inflasi akibat tingginya harga minyak mentah dunia.Hal tersebut diharapkan bisa membantu peningkatan investasi sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi seperti yang diharapkan. Saat ini, lanjut dia, pertumbuhan ekonomi masih didorong oleh faktor konsumsi, baik dari swasta maupun pemerintah. Ke depan, diharapkan pertumbuhan ekonomi bisa ditopang oleh investasi.Diakui Hartadi, sulit bagi Indonesia untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi 7 persen dalam jangka pendek, karena untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar itu diperlukan rasio investasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 30 persen atau mencapai Rp 600 triliun. Sementara saat ini rasio investasi PDB masih di level 20 persen atau Rp 400 triliun. "Jadi masih ada gap sekitar Rp 200 triliun untuk pembiayaan investasi saja," tuturnya. (ani/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads