Pemerintah Tetap Upayakan Defisit Anggaran yang Rendah
Kamis, 19 Agu 2004 15:57 WIB
Jakarta - Menteri Keuangan Boediono menyatakan saat ini pemerintah tetap cenderung untuk mengendalikan defisit anggaran yang rendah, meskipun banyak desakan pemerintah untuk memperbesar defisit guna merangsang stimulus fiskal. Defisit yang terlalu besar dinilai masih berbahaya bagi Indonesia yang tergolong negara berkembang."Rasio utang kita masih 60 persen. Kalau di negara maju, mungkin mereka bisa memperbesar defisit. Kalau negara kita ya rasionya harus aman, di bawah 30 persen," kata Boediono usai seminar "Arah Kebijakan Fiskal dan Moneter Tahun 2005" di gedung BI, Jakarta Pusat, Kamis (19/8/2004).Boediono menjelaskan, kebijakan fiskal memang cenderung lebih kaku dibandingkan kebijakan moneter. Dijelaskan, jika APBN kebablasan, maka dibutuhkan waktu 1-2 tahun untuk mengerem laju defisit anggaran. "Tapi nanti kalau rasio utang kita sudah turun, bisa saja defisit ditingkatkan, kalau hal itu diperlukan," tuturnya.Ketika ditanya soal stimulus fiskal untuk mendorong investasi, Boediono menegaskan, kebijakan yang ditempuh pemerintah adalah menciptakan kesinambungan fiskal. Namun aspek lainnya seperti hukum, perpajakan dan perburuhan juga perlu diperbaiki.Ia mengaku tidak tahu persis investor mana yang akan lebih dulu masuk, apakah domestik atau asing. Akan tetapi diperkirakan investor domestik yang akan lebih dulu masuk karena mereka lebih tahu risiko yang akan dihadapi. Kemudian disusul investor domestik yang sebelumnya memarkir dananya di luar negeri dan terakhir baru investor luar negeri."Jadi pengelolaan fiskal itu harus hati-hati karena kalau kita menggelontorkan stimulus ke mana-mana termasuk ke APBN, maka ujung-ujungnya inflasi. Kita memang tidak dilarang melakukan hal itu, cuma kalau berlangsung lama maka kita perlu berhati-hati," demikian Boediono.
(ani/)











































