"Berdasarkan pengamatan atas laporan-laporan yang diterima PPATK, cek perjalanan atau TC, khususnya yang bernominal besar, yaitu Rp 25 juta ke atas per lembarnya, digunakan untuk suap atau gratifikasi. Indikasinya adalah profil keuangan atau transaksi pihak-pihak yang mencairkannya tidak sesuai dengan kebutuhannya," kata Wakil Kepala PPATK, Agus Santoso kepada detikFinance di Jakarta, Kamis (21/6/2012).
"Sebagai contoh ada pihak yang berprofesi pengemudi mencairkan TC di atas Rp 100juta maka, transaksi seperti ini harus diidentifikasikan sebagai Transaksi Mencurigakan (Suspiciuos Transaction) dan wajib dilaporkan ke PPATK," imbuh Agus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cek pelawat dapat dibayar oleh perusahaan yang mengeluarkannya dan dijual dengan angka nominal tertentu dan dijamin dari kehilangan atau pencurian. Cek tadi diterima sebagai pengganti uang tunai oleh para pedagang, dapat dicairkan di kantor-kantor tertentu.
Jika terkait dengan cek pelawat maka dengan demikian definisi TKM (Transaksi Keuangan Mencurigakan) harus dipahami oleh para petugas bank bukan hanya nominal.
"TKM bisa diduga dari nominal transaksi yang tidak wajar karena tidak sesuai dengan profile/karakteristik/kebiasaan transaksi keuangan nasabah, tetapi juga bisa diidentifikasi dari instrumen/produk bank yang digunakan bertransaksi, seperti contoh pencairan TC tadi," papar Agus.
Sebenarnya, Agus mengatakan cek pelawat latar belakang tujuannya adalah untuk memudahkan pelancong, sebagai pengganti uang tunai.
"Apa iya, seorang pelancong butuh uang tunai ratusan juta? Tentu ini patut ditengarai ada motif yang tidak beres," kata Agus.
Walaupun TC atau Cek Pelawat ini merupakan instrumen atas unjuk, TC bisa ditelusuri karena pihak pembeli dan pihak yang mencairkan dicatat oleh bank, sehingga cepat atau lambat pasti akan ketahuan juga.
"Contohnya kan sudah ada," tutup Agus.
Seperti diketahui, ratusan cek pelawat yang disinyalir terkait pelicin dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior BI Miranda Goeltom akhirnya diketahui. Bermula dari Direktur PT Wahana Esa Sejati, Ahmad Hakim Safari alias Arie Malangjudo, cek mengalir ke DPR melalui tangan Dudhie Makmun Murod (angota Fraksi PDI Perjuangan), Endien Soefihara (Fraksi PPP), Hamka Yandhu (Fraksi Golongan Karya), dan Udju Djuhaeri (Fraksi TNI/ Polri).
Arie Malangjudo mengaku menyebar cek pelawat berdasarkan perintah Nunun Nurbaetie. Tujuannya adalah mengarahkan suara masing-masing fraksi untuk memenangkan Miranda Goeltom sebagai DGS Bank Indonesia 2004. Namun, Miranda dan Nunun membantah pernah menyuruh Arie Malangjudo.
(dru/dnl)











































