Meski Terjadi Krisis Global, Prospek Industri Asuransi Jiwa Masih Cerah

Meski Terjadi Krisis Global, Prospek Industri Asuransi Jiwa Masih Cerah

- detikFinance
Senin, 09 Jul 2012 12:20 WIB
Meski Terjadi Krisis Global, Prospek Industri Asuransi Jiwa Masih Cerah
Jakarta - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melihat geliat investasi di produk asuransi masih cukup tinggi. Asuransi jiwa yang memang pada dasarnya digunakan sebagai perlindungan kini semakin dilengkapi dengan peluang investasi, yaitu perlindungan keuangan dengan mengembangkan dana simpanan.

Demikian diungkapkan oleh Ketua Bidang Operasional dan adiministrasi AAJI, Eddy K.A Berutu disela konferensi persnya di Ruang Training AAJI, Plaza Office Tower (09/07/12).

"Ditengah kondisi krisis yang masih terjadi di wilayah Eropa dan Amerika Serikat, perusahaan asuransi jiwa nasional tidak sama sekali surut pada rencana investasi mereka," kata Eddy.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hal ini terlihat dari total nilai investasi perusahaan asuransi jiwa nasional pada Q1/2012 yang tercatat mencapai Rp 207,9 triliun yang meningkat 28% jika dibandingkan dengan Q1/2011 yang sebesar Rp 162,4 triliun," imbuhnya.

Dari total investasi, 76,2% ditempatkan di instrumen pasar modal seperti saham, obligasi SUN dan reksadana. Dengan pasar modal yang masih bergejolak, industri asuransi tetap menikmati hasil investasi yang maksimal di awal tahun 2012.

"Ada optimisme di industri asuransi, kendati pasar global masih bergejolak," ungkap Eddy.

"Hasil investasi di Q1/2012 tetap tumbuh sangat signifikan, malah mencapai 596,2%, yakni Rp 8,3 triliun jika dibandingkan Q1/2011 yang sebesar Rp 1,2 triliun," jelas Eddy.

Dari sisi aset sendiri, Eddy mengatakan bahwa pada Q1/2012 aset industri asuransi jiwa mengalami peningkatan, yakni sebesar Rp 241,9 triliun, meningkat sebesar 28,7% dibandingkan dengan Q1/2011 yang sebesar Rp 188 triliun.

Begitu pula cadangan teknis pada Q1/2012 yang mengalami peningkatan 19,3% menjadi Rp 189,8 triliun dari periode yang sama tahun 2011 yang sebesar Rp 159,1 triliun.

(dru/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads