PPATK: Bulan Puasa Waktunya Tobat 'Merampok' Uang Rakyat

PPATK: Bulan Puasa Waktunya Tobat 'Merampok' Uang Rakyat

- detikFinance
Rabu, 11 Jul 2012 07:35 WIB
PPATK: Bulan Puasa Waktunya Tobat Merampok Uang Rakyat
Jakarta - Wakil Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Agus Santoso menyampaikan tingkat korupsi maupun pencucian uang di Indonesia masih terus menjadi perhatian PPATK. Hal ini seiring dengan masih banyaknya kasus yang terjadi di berbagai lapisan masyarakat.

Menyambut bulan puasa, Agus mengungkapkan sudah saatnya bulan yang segera datang ini menjadi momentum perbaikan nilai-nilai keluarga.

"Bulan ramadan pas bila dijadikan momentum perbaikan nilai-nilai keluarga. Agar ayah, ibu dan anak-anak sadar pada kenyataan bahwa masih banyak saudara saudara kita yang kekurangan bahkan hidup di bawah garis kemiskinan," kata Agus ketika berbincang dengan detikFinance, Rabu (11/7/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara Agus menambahkan bila membaca, mendengar dan melihat berita di media massa, ada keluarga-keluarga yang berkolaborasi mengeruk uang rakyat untuk mempertebal kantongnya.

"Sangat menyedihkan melihat suami-istri, bapak-anak, kakek-cucu, kakak-adik secara bersamaan terseret kasus korupsi dan pencucian uang," ungkap Agus.

"Bulan ramadan adalah momentum yang tepat untuk instrospeksi dan menguatkan nilai-nilai keluarga telah runtuh. Jangan terulang anak istri, adik kakak diberitakan ramai-ramai bantu korupsi dan pencucian uang," imbuhnya

Menurut Agus, berdasarkan UU TPPU maka mereka yang terlibat dalam tindak pidana pencucian uang, baik itu pelaku aktif, pelaku pasif (yaitu yang menerima aliran dana) atau fasilitator yaitu mereka yang membantu/memfasilitasi pencucian uang, diancam pidana.

Agus menilai maraknya pemberitaan tentang para pelaku yang diduga melakukan tindak pidana korupsi dan pencucian uang yang melibatkan keluarga batih (keluarga inti) merupakan indikasi lunturnya nilai-nilai kontrol, nilai-nilai check and recheck dalam keluarga.

"Sangatlah aneh apabila istri tidak bertanya tentang suaminya yang mendadak kaya, lebih-lebih lagi istri yang membantu suaminya untuk menyamarkan uang hasil kejahatan. Lebih aneh lagi, ada modus anak yang menggunakan ayahnya, ayah menggunakan anaknya, kakek menggunakan cucunya. Kemana nilai-nilai keluarga yang silih asih, silih asah, dan silih asuh itu ?" tutup Agus.

(dru/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads