Menyambut bulan puasa, Agus mengungkapkan sudah saatnya bulan yang segera datang ini menjadi momentum perbaikan nilai-nilai keluarga.
"Bulan ramadan pas bila dijadikan momentum perbaikan nilai-nilai keluarga. Agar ayah, ibu dan anak-anak sadar pada kenyataan bahwa masih banyak saudara saudara kita yang kekurangan bahkan hidup di bawah garis kemiskinan," kata Agus ketika berbincang dengan detikFinance, Rabu (11/7/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sangat menyedihkan melihat suami-istri, bapak-anak, kakek-cucu, kakak-adik secara bersamaan terseret kasus korupsi dan pencucian uang," ungkap Agus.
"Bulan ramadan adalah momentum yang tepat untuk instrospeksi dan menguatkan nilai-nilai keluarga telah runtuh. Jangan terulang anak istri, adik kakak diberitakan ramai-ramai bantu korupsi dan pencucian uang," imbuhnya
Menurut Agus, berdasarkan UU TPPU maka mereka yang terlibat dalam tindak pidana pencucian uang, baik itu pelaku aktif, pelaku pasif (yaitu yang menerima aliran dana) atau fasilitator yaitu mereka yang membantu/memfasilitasi pencucian uang, diancam pidana.
Agus menilai maraknya pemberitaan tentang para pelaku yang diduga melakukan tindak pidana korupsi dan pencucian uang yang melibatkan keluarga batih (keluarga inti) merupakan indikasi lunturnya nilai-nilai kontrol, nilai-nilai check and recheck dalam keluarga.
"Sangatlah aneh apabila istri tidak bertanya tentang suaminya yang mendadak kaya, lebih-lebih lagi istri yang membantu suaminya untuk menyamarkan uang hasil kejahatan. Lebih aneh lagi, ada modus anak yang menggunakan ayahnya, ayah menggunakan anaknya, kakek menggunakan cucunya. Kemana nilai-nilai keluarga yang silih asih, silih asah, dan silih asuh itu ?" tutup Agus.
(dru/ang)











































