Menkeu Akui Harga Minyak di RAPBN 2005 Sulit Diperkirakan
Senin, 30 Agu 2004 15:37 WIB
Jakarta - Menkeu Boediono mengakui harga minyak dalam RAPBN 2005 merupakan satu-satunya asumsi yang paling sulit diperkirakan. Karena itu penyusunannya dilakukan secara hati-hati dan konservatif."Jika harga minyak diperkirakan terlalu tinggi tetapi realisasinya cukup rendah, maka pemerintah pusat tetap harus mengalokasikan DAU yang juga menjadi tinggi," ungkap Menkeu Boediono dalam jawaban pemerintah terhadap pemandangan umum DPR RI mengenai nota keuangan dan RUU tentang APBN 2005 di hadapan Panitia Anggaran DPR RI di Gedung MPR/DPR, Jl. Gatot Soebroto, Jakarta, Senin, (30/8/2004).Dan, sebaliknya, lanjut Menkeu, jika perkiraannya disusun secara konservatif namun realisasinya tinggi, maka pemerintah pusat hanya akan mengubah bagi hasil migas dan subsidi BBM saja tanpa harus mengubah alokasi DAU. "Dengan demikian pengaruhnya terhadap defisit diperkirakan tidak akan terlalu besar dibandingkan apabila asumsi harga minyak sudah diperkirakan terlalu tinggi sejak awal," katanya lagi.Sebelumnya sejumlah fraksi seperti Fraksi Partai Golkar, Fraksi PPP, Fraksi Partai Bulan Bintang dan Fraksi Kesatuan Kebangsaan Indonesia mempertanyakan rendahnya asumsi harga minyak yang dipatok pemerintah dalam RAPBN 2005 sebesar 24 dolar AS/barel.Boediono menjelaskan, penetapan asumsi harga minyak ini sangat sulit karena tingginya ketidakpastian faktor-faktor yang mempengaruhi harga minyak dunia disamping tidak ada satu pun kebijakan pemerintah yang mampu mengintervensi pergerakan harga minyak itu."Sehingga ada ungkapan saat ini tidak ada seorang pun yang dapat memperkirakan harga minyak dunia dengan akurat," katanya.Boediono menjelaskan, harga minyak dunia dipengaruhi sejumlah faktor baik yang bersifat fundamental seperti permintaan dan penawaran maupun faktor psikologis seperti situasi politik keamanan negara-negara penghasil minyak.Pemerintah memperkirakan tahun 2005 pasokan minyak dunia akan pulih yang antara lain disebabkan adanya pengaruh kebijakan OPEC meningkatkan kuota produksi minyak mentah sebesar 1,5-2 juta barel/hari.Hal ini masih ditambah dengan tingkat permintaan minyak dunia yang relatif stabil karena pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2005 yang tidak banyak berubah, dan pada akhirnya tidak mempengaruhi peningkatan permintaan minyak mentah dunia.Namun demikian, Boediono mengakui, asumsi harga minyak sebesar 24 dolar AS/barel tetap memungkinkan bagi pemerintahan baru mendatang untuk melakukan sejumlah penyesuaian.
(mi/)











































