Pemerintah Nilai Pertumbuhan Ekonomi 2005 Sangat Realistis

Pemerintah Nilai Pertumbuhan Ekonomi 2005 Sangat Realistis

- detikFinance
Senin, 30 Agu 2004 15:57 WIB
Jakarta - Pemerintah menilai asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen pada RAPBN 2005 merupakan asumsi yang optimis dan realistis, karena didasarkan pada ekspektasi berbagai faktor ekonomi dan non ekonomi.Hal ini disampaikan Menkeu Boediono kepada Panitia Anggaran DPR RI saat menanggapi pemandangan umum dari Fraksi Partai Golkar, Fraksi PPP, Fraksi Partai Bulan Bintang dan FKKI di Gedung MPR/DPR, Jl. Gatot Soebroto, Jakarta, Senin, (30/8/2004).Dijelaskan, dari segi komposisi pertumbuhan ekonomi tahun 2005 diharapkan tidak hanya didorong oleh konsumsi masyarakat tapi juga dari investasi yang sudah mulai dapat memberikan kontribusinya mulai tahun 2005.Pemerintah memperkirakan pada tahun 2005 konsumsi masyarakat akan tumbuh sebesar 4,9 persen, sedangkan investasi sebesar 8,1 persen. "Perkiraan ini cukup realistis mengingat semakin mambaiknya kepercayaan dunia usaha, disamping penyelenggaraan pemilu legislatif dan presiden tahap I yang berjalan aman dan lancar yang tampaknya telah mulai memberikan sinyal positif bagi pelaku pasar," kata Boediono.Boediono juga menjelaskan, dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada tahun 2005 dan terjaminnya kebutuhan pokok dengan harga terjangkau serta ditingkatkannya sejumlah upaya sistematis mengurangi kemiskinan, maka angka kemiskinan baik secara relatif atau absolut akan turun.Dengan angka pertumbuhan 5,4 persen maka kesempatan kerja yang tercipta berkisar antara 1,1-1,6 juta tenaga kerja. Namun dengan sejumlah usaha pemerintah yang memberikan tekanan pada peningkatan kualitas pertumbuhan diharapkan lapangan kerja yang tercipta bisa lebih besar lagi.Sementara untuk asusmsi tingkat infalsi sebesar 5,5 persen pada tahun 2005 diperkirakan masih realistis meski tingkat inflasi sampai Juli 2004 mencapai 7,2 persen. Lebih rendahnya inflasi tahun 2005 terkait dengan perkiraan menguatnya nilai tukar rupiah ke arah yang lebih realistis, yakni Rp 8.900 tahun 2004 menjadi Rp 8.600 tahun 2005."Hal itu akan mengurangi tekanan inflasi disamping juga asumsi harga minyak yang diperkirakan kembali ke harga normal sekitar 24 dolar AS/barel," tegas dia.Dengan turunnya inflasi pada akhirnya, kata Menkeu, akan diikuti dengan lebih rendahnya tingkat bunga yang pada tahun 2005 ditargetkan 6,5 persen. Sementara tingkat bunga riil sekitar satu persen."Tingkat bunga riil satu persen itu masih kompetitif dibandingkan dengan tingkat bunga negara-negara tetangga," katanya. (mi/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads