10. Teklewold Atnafu
|
|
Nilai: C
Gubernur National Bank of Ethiopia ini untuk pertama kalinya masuk dalam peringkat bankir sentral dan langsung mendapat nilai C.
Kenaikan harga minyak dunia dan gagal panen menyebabkan tingkat inflasi 2011 Etiopia merangkak ke dua digit. Hingga Juli lalu, tingkat inflasi tercatat setinggi 20%. Pesatnya pertumbuhan ekonomi Etiopia (GDP naik di atas 10% pada 2011) telah menaikkan harga-harga konsumen di negara itu.
Meski IMF sudah memperingatkan bahwa pertumbuhan moneter berlebihan merupakan penyebab utama kenaikan inflasi Etiopia, bank sentral terus saja melonggarkan kebijakan. Pada bulan Januari, bank sentral menaikkan jumlah tunai yang tersedia untuk bank pinjamkan.
Pada Juni lalu IMF menaikkan perkiraan pertumbuhan Etiopia dari 5,5% menjadi 7%, namun mengatakan tingkat inflasi satu digit bisa dicapai tahun depan jika bank sentral memperketat moneter dan kebijakan fiskal.
9. Mohammed Laksaci
|
|
Nilai: C
Gubernur Bank of Algeria ini menjadi satu dari tiga bankir sentral yang masuk daftar ini. Laksaci sudah jadi gubernur bank sentral di negara kaya migas ini sejak 2001. Di masa lampau, dia pernah menghadapi berbagai tantangan ekonomi.
Seperti kejatuhan dinar Algeria sebanyak 11% terhadap dolar pada 30 April hingga akhir Juli ke level terendahnya dalam 8 tahun. Inflasi di Algeria juga meroket dengan tingkat inflasi tahunan mencapai 7,5% di bulan Juli, sementara biaya sayuran melesat lebih dari 18%.
Tahun lalu, IMF mengatakan resiko terbesar ekonomi Algeria adalah tertekannya harga minyak, terutama karena negara ini adalah salah satu pemasok gas alam terbesar Uni Eropa. Kenaikan gaji sektor publik pasca demo Arab Spring bisa menekan inflasi lebih jauh. IMF menyarankan Algeria menerapkan kebijakan moneter baru pada 2012 untuk mengendalikan likuiditas yang berlebihan.
Meskipun pemerintah menggunakan cadangan nilai tukar mata uang asing yang cukup signifikan, diperkirakan US$ 181,5 miliar pada 2011 untuk membiayai kebijakan fiskalnya yang defisit dan dipengaruhi pertumbuhan.
8. Nguyen Van Binh
|
|
Nilai: C
Gubernur The State Bank of Vietnam ini juga pendatang baru dalam daftar bankir sentral ini.
Binh sudah berusaha aktif menurunkan tingkat inflasi menjadi satu digit dari level tertinggi 23% pada Agustus 2011. Dia juga memangkas tingkat refinancing sebanyak 500 poin dari Maret menjadi 10%. Sang gubernur kini memiliki tantangan baru yakni mengembalikan kepercayaan investor di sektor perbankan Vietnam.
Salah satu kejadian yang membuat investor takut adalah ketika konglomerat bank kenamaan dan pemegang saham di beberapa bank terbesar Vietnam, Nguyen Duc Kin ditangkap atas dugaan menjalankan bisnis ilegal. Juga saat CEO Asia Commercial Bank, Ly Xuan Hai ditangkap atas tuduhan korupsi pada bulan Agustus.
Kejadian ini mengejutkan seluruh Vietnam dan membuat bursa lokal anjlok hingga memaksa Binh meyakinkan publik supaya tidak panik dengan mengatakan bank sentral siap turun tangan jika diperlukan. Penangkapan ini menimbulkan penarikan besar-besaran di ACB, salah satu bank terbesar Vietnam yang didirikan Kien dan 15% sahamnya dimiliki Standard Chartered.
Bank sentral menyuntikkan lebih dari US$ 1 miliar ke sistem keuangan melalui transaksi pasar terbuka pekan lalu dengan Binh mengatakan sektor perbankan akan mendukung ABC memenuhi kewajibannya membayar deposito.
7. Kim Choongsoo
|
|
Nilai: C
Kim menjabat sebagai Gubernur Bank of Korea, bank sentral negara berekonomi terbesar keempat di Asia ini sejak 2010. Bank sentral Korea Selatan mendapat reputasi karena berkali-kali salah menilai pasar dan merespon terhadap kepentingan politik daripada membuat keputusan berdasarkan performa ekonomi.
Bank of Korea mengejutkan pasar ketika setidaknya dalam 6 pertemuan rate sepanjang 2011. Entah itu menahan rate ketika investor mengantisipasi kenaikan, atau malah menaikkan rate saat tidak ada prediksi gerakan sama sekali.
Pada bulan Juli, bank sentral Korsel mengejutkan pasar dengan memangkas tolok ukur suku bunga untuk pertama kalinya dalam 3 tahun menjadi 3% pasca kekuatiran terhadap perlambatan global. Namun keputusan ini mengundang kritik dan dianggap tidak konsisten karena sebelum pemangkasan, bank sudah menekankan normalisasi rate atau kenaikan untuk menangkis inflasi.
Kim terpaksa menyangkal bahwa dia harus memangkas rate karena tekanan politik dari presiden Korea Selatan, seiring keputusan itu keluar dua hari setelah dia menghadiri pertemuan dengan pejabat-pejabat pemerintah.
6. Duvvuri Subbarao
|
|
Nilai: C
Nilai Gubernur Reserve Bank of India (RBI) ini kembali turun ke C seperti yang diterimanya pada 2010. Padahal nilai Subbarao sempat naik jadi B- pada 2011.
Setelah memprioritaskan mengurus inflasi India yang betah di level 10% dalam beberapa bulan, bank sentral memilih tidak mengubah suku bunga setelah pemangkasan tajam 50 poin di bulan April, bahkan ketika kondisi ekonomi memburuk.
Pertumbuhan negara berekonomi terbesar ketiga di Asia ini melambat jadi 5,3% di triwulan pertama untuk sembilan tahun berturut-turut. Pada bulan Juli, bank sentral mengurangi outlook pertumbuhan untuk tahun fiskal yang berakhir Maret dari 7,3% jadi 6,5%.
Sikap RBI yang condong ingin melonggarkan kebijakan moneter bertolakbelakang dengan bank-bank sentral lainnya di kawasan tersebut yang memudahkan syarat kredit untuk memompa ekonomi dari dampak krisis utang zona Euro.
Duvvari bersikeras bahwa pelonggaran kebijakan hanya akan memperburuk inflasi tanpa stimulus pertumbuhan berarti. Usaha bank sentral menstabilisasikan rupee yang volatil dan mencapai rekor terendah di Mei dan Juni, juga disebut sebagai aksi βlembekβ dan tidak efektif.
5. Andras Simor
|
|
Nilai: C
Simor yang sudah menjabat sebagai Gubernur Hungarian National Bank sejak 2007 ini kembali mendapat nilai C seperti tahun sebelumnya.
Ekonomi Hungaria mendapat peringkat junk karena memiliki utang tertinggi di Eropa pusat dan berada di ujung resesi. Bankir top di Hungaria ini menghadapi tekanan terus menerus dari pemerintah untuk tetap mempertahankan suku bunga di level sangat tinggi.
Bank sentral tidak mengubah suku bunga selama 7 bulan berturut-turut pada bulan Juli. Bahkan ketika krisis zona Euro yang makin parah mengancam mata uang lokal, Forint yang sudah merasakan dampak dari ketakutan para investor.
Simor mengabaikan permintaan untuk meringankan kebijakan demi membangkitkan ekonomi yang melemah. Pertumbuhan ekonomi turun 1,2% di triwulan pertama dari triwulan sebelumnya dan tingkat inflasi mencapai 5,6% di bulan Juni atau lebih tinggi dari target awal 3%.
Pada bulan Juli, Bank Sentral Eropa juga melabrak kebijakan finansial baru Hungaria tentang pajak transaksi di bank-bank komersial. BSE mengatakan, hal ini membebani kemandirian bank sentral Hungaria.
BSE berargumen bahwa pajak bisa mengganggu transmisi kebijakan moneter dan mungkin salah satu cara untuk mendanai sektor publik dari uang bank sentral. Hal ini melanggar peraturan Uni Eropa.
4. Nadezhda Ermakova
|
|
Nilai: C
Ermakova menjabat sebagai Gubernur National Bank of Belarus sejak Juli 2011. Tahun lalu Ermakova menghadapi serangkaian tantangan, salah satunya sanksi dari AS mengenai firma-firma yang dimiliki negara dan tingginya inflasi.
Tingkat inflasi meroket di atas 100% pada 2011 setelah mata uang lokal, Rouble kehilangan 2/3 nilainya terhadap dollar. Krisis kurs yang juga berujung pada penipisan cadangan emas dan forex, memaksa bank sentral untuk menaikkan suku bunga hingga mencapai 45% untuk mengendalikan harga konsumen yang berlipat ganda kala itu.
Pada Februari, bank sentral mulai memangkas rate refinancing-nya secara bertahap untuk meringankan kebijakan peminjamannya dan mengisyaratkan bahwa masa terburuk krisis sudah berlalu. Pemangkasan rate refinancing terakhir menjadi 30,5% dilakukan bank sentral Belarus pada Agustus.
Bank juga meningkatkan syarat cadangan untuk peminjaman mata uang asing dari 10% menjadi 12% dengan harapan bisa mengendalikan tingkat inflasi yang diharapkan berada di level 22% tahun ini.
3. Masaaki Shirakawa
|
|
Nilai: C-
Gubernur Bank of Japan ini menduduki posisi ketiga bankir sentral terburuk. Sebagai negara berekonomi terbesar ketiga di dunia, Jepang merupakan satu-satunya negara maju yang masuk dalam daftar ini.
Shirakawa yang sudah mengepalai BOJ sejak 2008 mendapat nilai C-, lebih rendah dari nilai tahun lalu yakni C. Kekuatiran tentang yen yang terus naik memukul ekonomi Jepang yang bergantung pada ekspor. Hal ini merupakan tantangan terbesar bank sentral Jepang sepanjang tahun lalu.
Setelah meringankan kebijakan moneter pada Februari dan April, BOJ mempertahankan rate-nya di kisaran 0 β 0,1% meski ditekan pemerintah untuk berhasil mencapai golnya yakni tingkat inflasi 1%.
Shirakawa telah berulang kali mempertahankan syarat moneter yang sudah sangat ringan di Jepang. Pemerintah dan perusahaan harus memanfaatkan uang murah untuk melawan deflasi yang sudah melanda negeri Sakura tersebut selama lebih dari satu dekade.
Namun tanda-tandanya, BOJ mulai kuatir tentang pertumbuhan dan Shirakawa pada awal bulan ini sudah mengisyaratkan bahwa bank sentral akan bertindak jika perlambatan China terus berkelanjutan. Apalagi jika kekuatan yen membebani pemulihan ekonomi Jepang.
2. Pedro Delgado
|
|
Nilai: D
Presiden bank sentral Ekuador ini masuk dalam daftar ini untuk pertama kalinya dengan nilai D. Ekuador mengadopsi dolar AS sebagai mata uangnya pada tahun 2000 setelah gagal bayar utang. Saat dolar berhasil menghadirkan stabilitas di negara eksportir minyak ini, kekurangan mata uang lokal telah membatasi alat kebijakan moneter bank sentral untuk melawan inflasi.
Harga konsumen meroket gila-gilaan pada akhir 2011 dan awal tahun ini karena hujan lebat merusak tanaman panen dan mendorong harga bahan pangan. Pemerintah memperkirakan tingkat inflasi tahunan 2012 mencapai 5,14%.
Bank sentral berusaha terus memperkuat sistem dolarisasi Ekuador dengan menggenjot likuiditas domestik untuk mendukung sistem finansialnya. Namun ekonom tetap kuatir mengenai kejatuhan harga minyak dan perlambatan ekonomi China akan berdampak besar pada ekonomi Ekuador.
Negara eksportir minyak ini sudah lama bergantung pada China sebagai sumber pemasukan sejak kasus gagal bayar yang mengisolasi Ekuadro dari pasar modal tertutup.
1. Mercedes Marco del Pont
|
|
Nilai: D
Gubernur bank sentral Argentina bergabung dengan rekannya sesama negara Amerika Selatan, Ekuador dalam daftar bankir sentral terburuk di dunia. Tahun ini, Marco del Pont kembali mendapat nilai D, sama dengan tahun sebelumnya.
Dia sudah menjabat sebagai gubernur bank sentral Argentina sejak 2010 dan dianggap sebagai sekutu dekat Presiden negara, Cristina Fernandez. Salah satu tantangan terbesar bank sentral Argentina adalah meroketnya harga-harga. Tingkat inflasi diperkirakan mencapai 25% dalam setahun, sekaligus yang tertinggi di Amerika Latin.
Pemerintahan Fernandez telah bertindak jauh, hingga ke tindakan denda dan menggugat ekonom yang mempublikasikan perkiraan inflasi negara. Pemerintah mengatakan, ekonom cenderung melipatgandakan 2-3 kali dibanding angka resmi pemerintah.
Investor tidak mengharapkan inflasi turun tahun ini karena tingginya belanja negara, keringanan kebijakan moneter, kenaikan gaji dan dampak kendali kurs serta impor. Bank sentral terus menerus mencetak uang sebagai salah satu cara mendanai pemerintah karena defisit fiskalnya melebar.
Marco del Pont mengatakan inflasi seharusnya dilawan dengan menggenjot pasokan melalui peningkatan investasi dan produksi. Namun usaha negara menarik investor sudah ternoda dengan kegagalan bayar utang luar negeri pada 2002. Larangan pembelian mata uang asing, serta pembatasan hasil ekspor impor telah merusak bisnis dan kepercayaan diri konsumen sejak Fernandez terpilih lagi pada Oktober 2011.
Halaman 2 dari 11











































