"Likuiditas yang mengetat (terutama dalam mata uang asing) dan rendahnya kapitalisasi menjadi konsekuensi dari tingginya pertumbuhan kredit dan kuatnya pertumbuhan ekonomi," jelas Fitch dalam laporannya seperti dikutip detikFinance, Senin (17/9/2012).
Diijelaskan Fitch, pertumbuhan kredit yang cepat dan meningkatnya aset memicu indikator risiko ekonomi makro (Macro Prudential Risk Indicator/MPI) bergerak ke angka 3 di Desember 2011. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran tentang laju pertumbuhan, terutama potensi volatilitas jika terjadi perlambatan ekonomi terjadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Fitch, kapasitas industri perbankan di Indonesia dalam menyerap biaya menjadi lebih meningkat. Namun, pendapatan yang stabil serta permodalan yang sehat menjadi nilai tambah.
Dari sisi Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Margin/NIM) cukup kuat tetapi berada dibawah tekanan. "Akibat dari meningkatnya persaingan yang menghambat pendapatan bunga," jelasnya.
Laporan Fitch ini berbanding terbalik dengan Bank Indonesia (BI). Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) baru-baru ini, BI melaporkan perkembangan sistem perbankan menunjukkan stabilitas yang tetap terjaga dengan fungsi intermediasi yang semakin baik dalam mendukung pembiayaan perekonomian.
Kinerja industri perbankan yang solid tercermin pada tingginya rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) yang berada jauh di atas minimum 8% dan terjaganya rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross di bawah 5%.
"Sementara itu, intermediasi perbankan juga terus membaik, tercermin dari pertumbuhan kredit yang hingga akhir Juli 2012 mencapai 25,2% (yoy). Kredit investasi tumbuh cukup tinggi, sebesar 29,6% (yoy), dan diharapkan dapat meningkatkan kapasitas perekonomian nasional. Sementara itu, kredit modal kerja dan kredit konsumsi masing-masing tumbuh sebesar 27,3% (yoy) dan 18,9% (yoy)," jelas BI.
(dru/dnl)











































