INDEF: Bank-bank di Indonesia Masih Rawan Pembobolan
Minggu, 05 Sep 2004 16:47 WIB
Jakarta - Direktur Eksekutif INDEF Iman Sugema menegaskan, potensi pembobolan bank (fraud) di Indonesia masih sangat besar sepanjang risiko operasional tidak dimasukkan dalam perhitungan rasio kecukupan modal (CAR). Sejauh ini Bank Indonesia hanya menetapkan risiko kredit saja dalam perhitungan CAR ditambah risiko pasar yang baru akan diterapkan pada tahun 2005mendatang. Karena itu, BI seharusnya segera menetapkan indikator kunci guna mengetahui secara dini risiko operasional, serta langkah-langkah untuk mengurangi potensi kerugian.Risiko operasional, lanjut Iman, biasanya menyangkut risiko kerugian yang terjadi akibat ketidakcukupan dan tidak berfungsinya proses internal, kesalahan SDM, kegagalan sistem atau masalah eksternal yang bisa mempengaruhi operasional bank."Jadi yang paling besar dampaknya itu sebetulnya risiko operasional. Kalau risiko kredit kan bisa diestimasi," katanya dalam workshop BCAmengenai Risk Management di Cisarua, Bogor, Minggu, (5/9/2004).Diakui Iman, di negara-negara berkembang risiko opererasional dalam perhitungan CAR memang masih sulit diterapkan. Sebab Bassel Accord II hanya memuat sisi normatifnya saja, sementara rumusan hitung-hitungannya belum disusun secara internasional."Memang agak sulit merumuskan karena sifatnya yang tidak bisa dipolakan, seperti yang terjadi dalam kasus BNI yang bobol Rp 1,6 triliun. Belum ada aturan standar, sehingga sulit diterapkan, tapi kan mestinya bisa dieliminir," kata dia.Sementara itu, Peneliti Eksekutif Direktorat Penelitian dan Pengaturan BI Wimboh Santoso mengungkapkan, meski belum memasukkan risiko operasional dalam perhitungan CAR bank-bank di Indonesia, BI tetap memantau secara intensifoperasional bank-bank di Indonesia.BI, katanya, sejauh ini belum memiliki rencana menerapkan risiko operasional dalam perhitungan CAR. "Risiko pasar saja baru akan kita terapkan 2005 meskiperaturannya sudah ke luar sejak 2003 lalu. Jadi untuk risiko oparasional, kita lihat saja dulu, bertahap. Kita belum punya timeline," ungkapnya.
(asy/)











































