BI: Tren Intermediasi Perbankan Meningkat

BI: Tren Intermediasi Perbankan Meningkat

- detikFinance
Senin, 06 Sep 2004 17:38 WIB
Jakarta - Hingga Juli 2004, Bank Indonesia (BI) mencatat 50 persen aktiva produktif perbankan sudah dalam bentuk kredit. Hal ini berarti tingkat intermediasi perbankan menunjukkan tren yang semakin menguat.Demikian disampaikan Kepala Biro Stabilitas Sistem Keuangan BI, Muliaman Hadad, dalam seminar mengenai perbankan di Hotel Le Meridien, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (6/9/2004).Muliaman memperkirakan, rata-rata aktiva produktif 136 bank di Indonesia akan meningkat hingga 60-70 persen dalam 5 tahun ke depan. Untuk itu, BI akan mengadakan sejumlah program dalam rangka peningkatan intermediasi perbankan, di antaranya dengan membangun kembali skema asuransi kredit.Ia menjelaskan, sebelum krisis, asuransi kredit pernah ada, namun karena asuransi kredit diidentifikasi sebagai kredit program dan mengarah pada moral hazard, maka program itu kemudian dihapuskan.Ditambahkan, selama ini bank-bank enggan mengucurkan kredit karena memikirkan risiko, sehingga risiko perlu dihapuskan dengan asuransi kredit tersebut. "Sebetulnya asuransi kredit ini bisa menjadi sarana mendorong intermediasi. Saya kira dalam konteks API (Arsitektur Perbankan Indonesia) kita ingin merevitalisasi skema asuransi kredit," sambungnya.Mengenai tahapan pelaksanaan asuransi kredit, Muliaman mengungkapkan, saat ini tengah dilakukan negosiasi dimana nantinya akan berbentuk kerjasama dengan perusahaan asuransi.Sementara itu, Direktur Utama PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) Muhammad Syahrial mengatakan, kondisi perbankan saat ini pasca dilakukan divestasi menunjukkan kecenderungan yang meningkat.Ia mencontohkan saham Bank Central Asia (BCA) yang harga divestasinya sebesar Rp 444 per saham, saat ini sudah mencapai Rp 1.775 atau mengalami kenaikan hingga 300 persen. Kemudian, Bank Danamon harga sahamnya sudah meningkat 177 persen, Bank Internasional Indonesia (BII) 95 persen dan Bank Niaga 13 persen.Menurut Syahrial, kenaikan harga ini terutama terkait pembangunan kredibilitas perbankan, bank sudah dikelola orang-orang profesional, memiliki struktur permodalan yang kuat serta misi dan tujuan bisnis yang jelas.Khusus mengenai Bank Permata, Syahrial mengharapkan, harga maksimal yang ditawarkan saat penawaran awal (preliminary bidding) nantinya bisa meningkat pada tahapan berikutnya. "Jadi 2,39 kali nilai buku nanti akan menjadi minimal harga. Tapi kita tidak mau juga menjadi overvalued sehingga prospek investasinya jadi kurang baik," demikian Muhammad Syahrial. (ani/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads