BI: Rupiah Masih Tertekan

BI: Rupiah Masih Tertekan

- detikFinance
Rabu, 08 Sep 2004 11:57 WIB
Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah mengakui nilai tukar rupiah akhir-akhir ini masih mengalami tekanan, meskipun bergerak dengan volatilitas yang lebih rendah. Hal itu disebabkan karena dari sisi fundamental, rupiah masih tertekan oleh tingginya permintaan valuta asing (valas) di tengah pasokan yang terbatas.Menurut Burhanuddin dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR, Rabu (8/9/2004), permintaan valas yang cukup tinggi, terutama dari sektor korporasi, dalam memenuhi kebutuhan impor guna merespon tingginya permintaan domestik.Dijelaskan, tekanan semakin besar karena mayoritas pembeli valas adalah korporasi bukan penghasil devisa. Adapun kelompok korporasi yang cukup tinggi kebutuhan valasnya adalah BUMN, otomotif dan industri makanan.Pada akhir Agustus 2004, menurut catatan BI, rupiah berada di kisaran Rp 9.368 per dolar AS. Namun dalam beberapa hari terakhir sudah kembali menguat hingga 100 basis poin pada level 9.200-an.Burhanuddin menambahkan, BI sudah mengimplementasikan paket kebijakan stabilisasi ekonomi untuk memperkuat stabilitas rupiah yang mencakup tiga aspek yakni kebijakan pengendalian likuiditas rupiah, kebijakan penyempurnaan ketentuan kehati-hatian perbankan berkaitan posisi devisa netto dan peningkatan pemantauan valas.Ia mengakui, ditempuhnya kebijakan tersebut sudah mendorong penurunan tingkat volatilitas rupiah. Namun demikian, stabilitas rupiah di masa mendatang masih perlu perhatian khusus, terkait risiko pembalikan aliran modal asing.Hal ini mengingat masih tingginya permintaan valas yang sebagian besar dipenuhi oleh pasokan yang bersumber dari aliran modal jangka pendek. Sementara, permintaan valas, terutama oleh korporasi, masih cukup tinggi. (ani/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads