Perbankan Konvensional dan Syariah, Bagaikan 'Gajah dengan Semut'

Perbankan Konvensional dan Syariah, Bagaikan 'Gajah dengan Semut'

- detikFinance
Kamis, 04 Okt 2012 12:58 WIB
Perbankan Konvensional dan Syariah, Bagaikan Gajah dengan Semut
Foto: Bank Konvensional dan Syariah
Jakarta - Para praktisi keuangan dan konsultan syariah terus mendorong pemerintah untuk kembangkan produk syariah yang sampai saat ini baru terdapat 80 produk saja dari ratusan produk syariah yang ada. Tetapi satu alasan kuat mengapa pemerintah harus mendorong syariah karena perang yang tidak seimbang dengan konvensional.

"Seperti Gajah dengan semut, jelas kalah dan tidak terlihat perkembangan syariah seperti apa sekarang, ada pertumbuhannya tetapi konvensional juga tumbuh," ujar Pengamat keuangan syariah Syakir Sula usai seminar infobank syariah di Hotel Borobudur Jakarta, Kamis (4/10/2012).

Salah satu dari banyak kendala yang dialami industri syariah menurut Syakir adalah belum ada spirit atau semangat yang besar dari pemerintah. Selain itu pemerintah masih melihat syariah sebelah mata.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini sistem yang lebih baik, konsep ini bagus tetapi pemerintah tidak punya keinginan untuk mengembangkan," katanya.

Ketahanan ekonomi syariah terhadap krisis menjadi nilai plus dari industri syariah. Syakir berpendapat pemerintah seharusnya melihat fenomena ini secara terbuka bahwa syariah adalah produk yang aman dan menjanjikan dalam membangun ekonomi.

"Anda tahu, tahun 1997-1998 ada krisis, pemerintah gelontorkan Rp 650 triliun untuk membangun kembali bank-bank konvensional dari kebangkrutan, tetapi tidak dengan Bank Muamalat yang bertahan di tengah krisis tanpa bantuan gelontoran dana," tuturnya.

Selain itu Syakir berpendapat ucapan Presiden RI 5 tahun lalu yang ingin menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah harus menjadi penyemangat. Ini penting dilakukan dan tidak saja pemerintah menganakemaskan konvensional.

"Kita ingin menjadi pusat ekonomi syariah itu ucapan presiden sejak 5 tahun lalu sehingga itu mengakomodasi masyarakat indonesia terhadap asuransi dan produk syariah. Selama ini konvensional diutamakan sehingga pertumbuhan syariah tidak terlalu istimewa," tutupnya.

(wij/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads