"Seperti Gajah dengan semut, jelas kalah dan tidak terlihat perkembangan syariah seperti apa sekarang, ada pertumbuhannya tetapi konvensional juga tumbuh," ujar Pengamat keuangan syariah Syakir Sula usai seminar infobank syariah di Hotel Borobudur Jakarta, Kamis (4/10/2012).
Salah satu dari banyak kendala yang dialami industri syariah menurut Syakir adalah belum ada spirit atau semangat yang besar dari pemerintah. Selain itu pemerintah masih melihat syariah sebelah mata.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketahanan ekonomi syariah terhadap krisis menjadi nilai plus dari industri syariah. Syakir berpendapat pemerintah seharusnya melihat fenomena ini secara terbuka bahwa syariah adalah produk yang aman dan menjanjikan dalam membangun ekonomi.
"Anda tahu, tahun 1997-1998 ada krisis, pemerintah gelontorkan Rp 650 triliun untuk membangun kembali bank-bank konvensional dari kebangkrutan, tetapi tidak dengan Bank Muamalat yang bertahan di tengah krisis tanpa bantuan gelontoran dana," tuturnya.
Selain itu Syakir berpendapat ucapan Presiden RI 5 tahun lalu yang ingin menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah harus menjadi penyemangat. Ini penting dilakukan dan tidak saja pemerintah menganakemaskan konvensional.
"Kita ingin menjadi pusat ekonomi syariah itu ucapan presiden sejak 5 tahun lalu sehingga itu mengakomodasi masyarakat indonesia terhadap asuransi dan produk syariah. Selama ini konvensional diutamakan sehingga pertumbuhan syariah tidak terlalu istimewa," tutupnya.
(wij/dru)











































