"BMW agak berlebihan," komentar Anggota Komisi XI Arif Budimanta saat ditemui di Gedung DPR, Senayan Jakarta, Selasa (16/10/2012).
Menurut Arif, kewibawaan Dewan Komisioner OJK tidak hanya dipandang dari kendaraan dinas. Apalagi mobil BMW ini ditaksir bernilai Rp 700 juta. Wibawa dapat dibangun dari efektivitas kebijakan, hingga pelaku industri menghargai lembaga ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arif pun menduga bos-bos OJK ini tidak tahu-menahu perihal kendaraan dinas BMW. Seluruhnya memang sudah disiapkan oleh tim perumus OJK yang berada di bawah naungan Kementerian Keuangan.
Saat rapat konsinyering anggaran (RPA), anggota dewan yang tergabung di Komisi XI juga tidak fokus pada pembahasan mobil yang dikendarai DK OJK karena tim perumus tidak melampirkan secara rinci perihal pos pengeluaran per item.
Memang beberapa hari sebelum pelantikan bos OJK, Kemenkeu telah menyiapkan mobil BMW yang akan digunakan untuk aktivitas Dewan Komisioner. Anggaran operasional ini diambil dari dana transisi OJK sebesar Rp 75 miliar.
Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Kiagus Ahmad Badaruddin mengaku, pemberian mobil dinas tersebut hal yang wajar. Pasalnya, tidak mungkin sebuah lembaga yang mengawasi industri keuangan tetapi secara penampilan tidak memiliki kewibawaan.
"Kalau mau Ketua OJK, DK OJK hebat, masa naik mobil second (bekas) Kemenkeu, ya tidak begitu. Kita harus berikan sesuatu yang memadai, yang wajar. Kalau direksi bank saja pakai mobil yang bagus, tentu dia harus diberikan mobil yang seimbang," kata Kiagus.
(wep/dnl)











































