Samin Tang menggunakan utang US$ 1 miliar (Rp 9 triliun) itu untuk membeli saham di perusahaan batubara tersebut. Sayangnya, investasi tersebut gagal karena harga saham Bumi Plc yang terus merosot.
Menurut Juru Bicara Stanchart Valerie Tay, Kay resmi mengajukan pengunduran diri akhir September lalu setelah berkarir selama 3 tahun di perusahaan tersebut. Kay sendiri punya pengalaman di bidang kredit selama lebih 20 tahun di berbagai belahan dunia, seperti Eropa, AS dan Asia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pinjaman yang diberikan kepada Borneo itu merupakan salah satu yang terbesar di Asia tahun lalu. Standard Chartered sudah bisa menerima US$ 230 juta dari pinjaman itu, meninggalkan US$ 770 juta sisanya dalam risiko.
Saham Bumi Plc, yang dibeli Samin Tan melalui uang pinjaman itu, sudah anjlok 72% tahun ini saja akibat perseturuan antara dua pemegang sahamnya, yaitu Nathaniel Rothschild dan Grup Bakrie.
September lalu, sahamnya makin jatuh setelah Bumi Plc, yang didorong Rothschild, berencana melakukan investigasi terhadap dana senilai US$ 500 juta milik anak usahanya di Indonesia, PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Grup Bakrie yang sebelumnya menguasai perusahaan tambang berkode BUMI itu menyambut langkah Rothschild dengan menawarkan pembelian kembali saham BUMI supaya lepas dari perusahaan yang dulunya bernama Vallar Plc itu.
Nat Rothschild, yang punya 12% daham Bumi Plc, memilih untuk turun dari posisinya sebagai direktur di Bumi Plc awal pekan ini.
(ang/dru)











































