Menurut Direktur Utama BNI, Gatot Suwondo, peningkatan laba dikontribusikan oleh pendapatan bunga bersih yang meningkat 19% dari Rp 9,4 triliun menjadi Rp 11,2 triliun.
"Tumbuhnya pendapatan bunga bersih ini merupakan konsekuensi dari pertumbuhan kredit secara ekspansif dilakukan BNI," kata Gatot di kantornya, Senin (22/10/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BNI masih rajin membiayai sektor korporasi, atau sekitar 35%. "Dari delapan sektor yang menjadi fokus aliran kredit korporasi BNI, proyek infrastruktur menjadi yang utama. Kondisi ini menjadi catatan khusus dukungan perseroan terhadap ekonomi nasional," tambahnya.
Sementara posisi dana pihak ketiga (DPK) juga meningkat dari Rp 204,4 triliun menjadi Rp 238,9 triliun hingga September 2012. CASA atau sumber dana murah naik Rp 31,7 triliun atau naik 60%.
Nilai tabungan mencapai Rp 83,3 triliun, dengan total jumlah rekening menjadi 14,3 juta rekening dari sebelumnya 12,7 juta rekening.
Posisi Loan to Deposit Ratio mengalami penurunan dari 78,3% menjadi 76,8% di triwulan III-2012. "Penurunan terjadi karena porsi pembiayaan dalam US$ terus diturunkan, sementara BNI berfokus pada pembiayaan dalan denominasi rupiah, sehingga dana terkonsentrasi di dalam negeri," tuturnya.
Posisi aset tercatat kenaikan 15,6% menjadi Rp 310,4 triliun. Tumbuhnya kredit tercipta oleh nilai pembiayaan yang memang meningkat menjadi Rp 184,5 triliun.
"Aset juga tumbuh karena peningkatan portofolio BNI pada obligasi yang diterbitkan oleh negara RI, dari Rp 33 triliun menjadi Rp 40 triliun," paparnya.
Dengan segala pencapaian yang sudah diraih perseroan, posisi CAR pun terjaga pada level 17,1% dari sebelumnya 16,7%.
(wep/dru)











































