Bom Kedubes, Minat Investor Obligasi Tetap Tinggi

Bom Kedubes, Minat Investor Obligasi Tetap Tinggi

- detikFinance
Selasa, 14 Sep 2004 14:37 WIB
Jakarta - Permintaan investor terhadap obligasi tetap tinggi dan tidak terpengaruh oleh peristiwa ledakan bom di Kedubes Australia pekan lalu. Dalam enam minggu terakhir harga obligasi terus naik sebesar 25 sampai 50 basis poin. "Permintaan terhadap instrumen obligasi dari lembaga dana pensiun, asuransi, dan fund manager terus tinggi. Sejak enam minggu terakhir demand obligasi masih tetap tinggi akibat kenaikan tingkat bunga SBI yang tidak terlalu besar," ujar Kahlil Rowter, Head of Research Fixed Income PT Mandiri Sekuritas di Gedung Bursa Efek Jakarta, Selasa,(14/9/2004).Apalagi, lanjut Kahlil pada September dan Desember 2004 ini, ada Surat Utang Negara (SUN) yang jatuh tempo dengan nilai total Rp 6 triliun lebih. Sehingga, pilihan utama bagi investor dalam menginvestasikan dananya hanya kembali lagi kepada SUN, baik di pasar sekunder maupun pasar primer. Menurutnya, kasus peledakan bom di Kedubes Australia dinilai hanya memberi dampak yang terbatas, jika dibandingkan dengan kasus bom Bali. "Dampak kasus bom Kuningan ini relatif isolated. Sehingga, investor yang rasional tidak meninggalkan investasinya," ujarnya. Kahlil menilai, tingginya permintaan obligasi tersebut selain karena stabilnya suku bunga SBI juga juga dipicu oleh kondisi fundamental kinerja emiten yang membaik. "Memang ada beberapa yang mencatat loss akibat forex loss. Tapi, secara umum fundamental emiten membaik," katanya. Apalagi, hal ini juga ditopang oleh tetap tingginya kepercayaan investor, khususnya investor lokal seiring dengan membaiknya kondisi fundamental ekonomi makro. Ditambahkan, tingginya permintaan pasar obligasi ini juga terlihat dari tidak turunnya harga obligasi baik obligasi negara (SUN) maupun obligasi korporasi pada saat kejadian bom di Kuningan itu. "Tingginya permintaan terhadap obligasi telah menyebabkan tidak ada pelemahan harga dan seperti tidak ada batas," katanya. Dia menjelaskan, naiknya permintaan terhadap obligasi jangka pendek lanjutnya, dipengaruhi oleh tipikal investor Indonesia yang cenderung lebih memprioritaskan capital protection. Dimana untuk investasi reksa dana yang mengacu pada Net Asset Value (NAV) obligasi jangka pendek tidak akan mengalami penurunan hingga saat jatuh tempo sehingga dana investor cenderung aman. Menurut Kahlil, secara teoritis, dana deposito senilai Rp 850 triliun cukup potensial untuk menjadi demand obligasi. Namun menurutnya, dalam praktek tidak seluruhnya akan pindah yakni hanya sekitar Rp 200-300 triliun dana individu yang akan masuk ke reksadana. Meski diakui pergerakannya sangat pelan, namun menurut Kahlil ada kecenderungan untuk terus naik karena ada capital protection jika reksa dana obligasi sedang turun. "Bagaimanapun perilaku investor lokal yang menjadi prioritas pertama adalah capital protection. Makanya minat terhadap reksa dana pasar uang sangat tinggi. Sementara suplainya kurang, karena pemerintah tidak mau terbitkan SPN (Surat Perbendaharaan Negara) sehingga terjadi supplay problem," jelasnya. Saat ini harga rata-rata obligasi naik sektiar 25-50 basis dalam beberapa minggu terakhir. "Pada saat bom kemarin tidak terpengaruh dan tidak turun. Hanya perdagangannya saja yang sepi. Tidak ada yang mau jual karena tidak ada yang mau rugi. Tapi setelah itu balik lagi," demikian Kahlil. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads