"Itu kebutuhan ya, selama ini kan susah. Tidak efisien," kata Umar di sela-sela Seminar Perbanas "Kongres XVIII Tahun 2012—Krisis Global: Peluang dan Tantangan Perbankan Nasioal ke Depan" di Jakarta, Rabu (31/10/2012).
Kebijakan redenominasi patut didukung karena membawa manfaat jangka panjang bagi Indonesia. Apalagi selama ini, di beberapa industri sudah menerapkan secara tidak langsung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, pemerintah memiliki pekerjaan rumah yang jauh lebih berat dalam perjalanannya memangkas angka nol dalam rupiah. Mitigasi risiko sosial dan politik harus diperhitungkan, supaya tidak dampak pada masyarakat.
"Perlu adanya sosialisasi yang lebih, agar tidak ada dampak sosial dan politik," tuturnya.
"Apalagi elit terlanjut khawatir dengan senering. Khawatir yang terjadi, nanti akan menaikkan harga. Aspek sosial juga perlu dibahas," tegas Umar.
Banyak contoh sukses redenominasi sukses dijalankan beberapa negara. Turki salah satunya, yang melakukan redenominasi dengan menghilangkan 6 angka nol pada mata uangnya. Jadi redenominasi yang dilakukan Turki adalah mengubah 1.000.000 lira menjadi 1 lira pada tahun 2005.
Namun redenominasi yang dilakukan Turki ini berbeda dengan yang akan dilakukan Indonesia. Seperti dikutip dari situs bank sentral Turki, kebijakan redenominasi ini dilakukan untuk menekan laju inflasi Turki yang sangat tinggi sejak tahun 1970-an. Inflasi yang tinggi ini menyebabkan nilai ekonomi di negara belahan Eropa tersebut mencapai hitungan triliun, bahkan kuadriliun.
(wep/dru)










































