Menteri Keuangan Agus Martowardojo menanggapi laporan Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (FITRA) terkait penyertaan modal hingga Rp 25 triliun lebih ke International Monetery Fund (IMF).
"Ooo tidak ada. Kalau dana yang terkait dengan pijaman ke IMF adalah dana yang ada dalam pengelolaan BI dan itu pun tidak diberikan secara tunai ke IMF tapi sifatnya standby. Itu ada dalam pengelolaan BI dan instansi yang lebih tepat menjawab ini adlaah BI," tegas Agus di kantornya, Senin (17/12/2012)
Agus pun menegaskan yang ada hanyalah dana pinjaman Indonesia ke IMF tujuannya untuk memperkuat neraca IMF, itu pun masuk ranah Bank Indonesia (BI) bukan menteri keuangan. Agus juga menyatakan hal itu tak ada kaitannya juga dengan keanggotaan Indonesia pada IMF.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya Direktur Riset Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Yenny Sucipto mempertanyakan bentuk penyertaan modal kepada lembaga International Monetery Fund (IMF) sebagai lembaga asing sebesar Rp 25,87 triliun. Penyertaan modal pemerintah Indonesia kepada IMF menjadi yang paling besar dibandingkan empat lembaga asing lainnya.
"Angka tersebut merupakan penyertaan modal. Bukan pengembalian utang atau bunga. Saya juga belum tahu mengapa muncul angka sebesar itu. Di LKPP sebelumnya tidak ada angka itu," kata Yenny di Jakarta, Minggu (16/12/2012).
"Tidak ada pengeluaran untuk IMF. Realisasinya nanti baru akan diketahui dalam LKPP semester II-2012 atau semester I-2013," tambahnya.
Selain IMF terdapat empat lembaga lain yang mendapat modal dari pemerintah Indonesia. Penyertaan modal ini sebagai kewajiban keanggotaan di organisasi atau lembaga keuangan internasional maupun regional. Berikut daftarnya:
1. IMF Rp 25,871 triliun
2. International Bank for Reconstruction Development Rp 39,174 miliar
3. International Development Association Rp 5,173 miliar
4. Multilateral Investment Guarantee Agency Rp 10,292 miliar
5. Common Fund for Commodities Rp 2,623 miliar
(hen/dru)











































