Tersandung Kredit Macet, 25 BPR di Jateng Tak Sehat
Kamis, 23 Sep 2004 18:03 WIB
Semarang - Kredit macet adalah momok dunia perbankan. Karena kredit macet bisa mengakibatkan iklim tak sehat dan kebangkrutan. Itulah yang terjadi pada 25 BPR (Bank Perkreditan Rakyat) di Jawa Tengah (Jateng).Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Jateng, SaidHartono, menyatakan ada 25 BPR di Jateng yang tak sehat. Mereka semuatersandung kredit macet."Tak usah disebutkan nama bank-nya lah. Biar masyarakat tahu sendiri," kataSaid kepada wartawan di sela-sela acara seminar di kantor Bank IndonesiaSemarang, Jl. Imam Bardjo, Kamis (23/9/2004).Dikatakan Said, faktor lain yang menyebabkan bank tak sehat adalah manajemenBPR yang kurang profesional. Akibatnya selain kurang mampu mencari nasabah,di beberapa BPR juga terjadi penyalahgunaan dana oleh para pengelolanya.Untuk mencegah penurunan status dari kurang sehat menjadi tidak sehat, Saidmenyarankan agar BPR tersebut melakukan merger. "Dengan merger, maka rasio kecukupan modal (CAR) akan kuat, manajemen semakin kokoh, dan performance BPR akan terangkat," ujarnya.Said menambahkan, saat ini target pertumbuhan omzet BPR di Jateng adalah20-30 persen, baik penyaluran kredit maupun penghimpunan dana pihak ke tiga(tabungan dan deposito).Sementara itu Koordinator Bidang BI Semarang Khairil Anwar, menyarankan hal yang sama. Meski demikian, pihaknya tidak bisa memaksa agar BPR melakukan merger, karena posisi BI hanya sebagai fasilitator dan administratorperijinan saja. "Semuanya terserah BPR," ujarnya pendek.Terakhir, Khairil menyatakan, sebelum melakukan marger, BPR harusmempertimbangkan syarat teknis dan dampak psikologis. Artinya, BPR hasilmerger harus mempunyai CAR minimal 15 persen. Sedangkan tentang dampakpsikologis, BPR harus mempertimbangkan kepercayaan nasabah.
(djo/)











































