Direktur Utama BCA Finance Roni Haslim mengaku, penurunan pembiayaan terjadi di wilayah Jabodetabek hingga mencapai 50%. Padahal, wilayah tersebut menyumbang 45% dari total pembiayaan BCA Finance.
"Penurunan hanya terjadi di wilayah Jabodetabek. Di wilayah lain bisnis tetap berjalan," kata Roni usai acara peluncuran Program Pembiayaan "Fix and Cap Tenor 6 Tahun" di Hotel Mahakam, Jakarta, Senin (21/1/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya berharap penurunan tersebut tidak akan berlangsung lama," kata dia.
Sementara itu, Deputi Direktur BCA Finance Punto Nugroho optimis jika kondisi tersebut tidak akan berlangsung lama. Menurutnya, perseroan akan mengalami kenaikan dalam dua bulan ke depan. "Penurunan diperkirakan hanya sepanjang satu hingga dua pekan ke depan. Kondisi akan kembali normal di pekan ketiga," ujarnya.
Dia melanjutkan, penurunan lebih disebabkan oleh terlambatnya angsuran karena kebanjiran. "Karena rumah kebanjiran, biasanya nasabah terlambat melakukan pembayaran. Selain itu beberapa kantor cabang juga tidak bisa beroperasi. Kantor cabang yang sempat ditutup adalah di wilayah Daan Mogot dan WTC Mangga Dua," kata Punto.
Terkait hal itu, dia menjelaskan, berdampak pada peningkatan rasio pembiayaan bermasalah (NPL). Namun, kata dia, dampaknya tidak akan terlalu tinggi.
Perseroan optimistis bisa mencapai target pembiayaan tahun ini sebesar Rp 30 triliun dengan menambah 6 kantor cabang di wilayah timur Indonesia dengan estimasi biaya sebesar Rp 300 juta per satu kantor cabang.
"Saat ini jumlah gerai kita tersebar di 48 kota. Pembiayaan peluangnya cukup besar tidak hanya Pulau Jawa tapi Luar Jawa juga. Untuk 6 kantor cabang itu, kita lagi pelajari dan survei ke kota-kota untuk penetapan wilayahnya," kata dia.
Nantinya, target pembiayaan tersebut akan diperoleh dari pinjaman bank, yang merupakan joint financing bank BCA sebesar 90 persen, sementara sisanya dari obligasi dan modal kerja.
(dru/dru)










































