Hal ini disampaikan oleh Gubernur BI Darmin Nasution dalam acara Kick Off Konsultasi Publik Perubahan harga rupiah "redenominasi bukan sanering" di hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (23/1/2013).
"Anak-anak cucu-cucu kita yang masuk SD belajar 4+7 =1 1. Kemudian keluar dan berbelanja, harganya berapa? Rp 2.500 atau Rp 3.000 , jadi tidak nyambung," ungkap Darmin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"(Selama ini) Apa yang dipelajari di kelas dengan apa yang dihadapi di luar itu nggak sesuai. Harga sama belajar di sekolah kan beda. Bagaimana mau belanja kalau dia baru tahu 4+7. Artinya kita perlu benahi anak cucu kita," paparnya.
Dalam transaksi dengan jumlah besar, Darmin menilai redenominasi juga dibutuhkan. Tahun lalu, transaksi secara Real Time Gross Settlement (RTGS) per hari mencapai Rp 404 triliun.
"Berapa digit itu. Kalikan 365 hari satu tahun. Jadi memang dahsyat sekali nilai transaksi yang terjadi yang tadi Menkeu menyampaikan berbagai ilustrasi soal itu," cetusnya.
Di 2009, transkasi tercatat sebesar Rp 142 triliun. Artinya dalam waktu tiga tahun, ada peningkatan berkali-kali lipat.
"Dalam 3 tahun ini hampir 3 kali lipat. Kalau 5 tahun lagi berapa kali lipat kira-kira. Jangan smpai digitnya terlalu banyak, kemudian terpaksa dibagi 1.000 kan ada yang hilang dari angka itu nantinya," pungkasnya.
RUU Redenominasi telah masuk dalam Prolegnas dan bakal dibahas DPR tahun ini. Jika disetujui, mulai 2014 bakal dimunculkan mata uang baru hasil redenominasi, sehingga ada 2 mata uang yang beredar di masyarakat. Setelah itu secara perlahan hingga 2017 redenominasi dilakukan dan mata uang rupiah lama akan hilang di masyarakat.
(dnl/dnl)











































