Ubah Rp 1.000 Jadi Rp 1, BI Waspadai Oknum yang Naikkan Harga Seenaknya

Ubah Rp 1.000 Jadi Rp 1, BI Waspadai Oknum yang Naikkan Harga Seenaknya

Maikel Jefriando - detikFinance
Rabu, 23 Jan 2013 14:10 WIB
Ubah Rp 1.000 Jadi Rp 1, BI Waspadai Oknum yang Naikkan Harga Seenaknya
Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengingatkan risiko yang perlu diantisipasi saat tahapan redenominasi. Resiko pertama adalah terkait pembulatan harga-harga ke atas yang dimungkinkan terjadi secara berlebihan.

"Ada potensi kenaikan harga akibat pembulatan harga-harga ke atas secara berlebihan karena kepentingan pribadi," ujar Gubernur BI Darmin Nasution pada acara Kick Off Konsultasi Publik Perubahan harga rupiah "redenominasi bukan sanering" di hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (23/1/2013)

Akan tetapi, lanjut Darmin pembulatan bisa dinilai sederhana karena sering terjadi sehari-hari. Ia mencontohkan, saat belanja di supermarket dimana uang yang dikeluarkan Rp 4.270, pegawai supermarket biasanya mengembalikan uang dalam bentuk permen karena tidak ada pecahan Rp 30 (sen).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Begitu nanti di kehidupan sehari-hari, ya udahlah. Yang misalkan risiko sedikit banyak, penjaga di supermarket, kalau kurang kembalian dulu pakai permen. Nah diberikan sekarang, harap maaf saja," paparnya.

Secara aturan, Ia menyatakan resiko ini akan dimasukan ke dalam UU. Nantinya akan mengatur praktek pembulatan harga yang memenuhi kriteria kewajaran, disertai pengawasan. "Kalau bisa ada penindakan tegas terhadap perilaku curang yang merugikan masyarakat luas," jelas Darmin.

Darmin mengatakan, resiko ini cenderung terjadi pada tahap transisi. Untuk itu, pedagang diharapkan mencantumkan harga barang/jasa dalam rupiah lama dan rupiah baru atau dual price tagging.

"Jadi memudahkan bertransaksi dan ada transparansi harga yang memudahkan monitoring dan mendorong peran aktif masyarakat untuk mengawasi pembulatan harga keatas secara berlebihan," tutupnya.

(dru/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads