Rizal Ramli: Hanya 0,5% Masyarakat yang Merasakan Positifnya Redenominasi

Rizal Ramli: Hanya 0,5% Masyarakat yang Merasakan Positifnya Redenominasi

Maikel Jefriando - detikFinance
Senin, 28 Jan 2013 16:46 WIB
Rizal Ramli: Hanya 0,5% Masyarakat yang Merasakan Positifnya Redenominasi
Jakarta -

Kebijakan redenominasi yang diusung pemerintah dan Bank Indonesia (BI) ternyata hanya akan menguntungkan kalangan masyarakat menengah ke atas. Dari total masyarakat Indonesia, paling hanya 0,5% yang mendapatkan dampak positifnya.

Hal ini disampaikan oleh Ekonom Rizal Ramli dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (28/1/2013)

"Untuk golongan menengah keatas, rupiah baru memang lebih nyaman," ungkap mantan Menko Perekonomian tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kalangan ini akan cukup nyaman ketika membawa uang tunai Rp 10 juta menjadi Rp 10 ribu dalam bentuk rupiah baru, atau hanya 10 lembar pecahan Rp 1.000 baru.

"Pertanyaannya, berapa persen orang Indonesia yang di kantongnya ada uang tunai Rp 10 juta per hari? Persentasinya sangat kecil, kurang dari 0,5% dari penduduk Indonesia," papar Rizal.

Ia bahkan menduga, dalam beberapa praktik korupsi, adanya redenominasi akan mempermudah penyogokan para penjabat.

"Jangan-jangan, jika sebelum redenominasi perlu boks bekas durian untuk menyogok penjabat miliaran rupiah, nanti cukup menggunakan amplop kecil," ucapnya.

Sementara untuk rakyat biasa, Rizal menyatakan banyak kendala yang akan dihadapi. Diantaranya istilah yang cukup tidak lumrah di telinga masyarakat. Kemudian dalam praktiknya, redenominasi nyaris hampir sama dengan pemotongan uang (sanering).

"Istilahnya nyaris sama dengan upaya pemotongan uang. Menerbitkan uang baru Rp1 yang nilainya sama dengan Rp 1.000 saat ini, itu juga paksaan inflasi (force inflation)," terangnya.

Sebab, karena daya beli golongan menengah kebawah akan terpotong dengan adanya kenaikan harga-harga setelah mata uang diterbitkan. Ia mencontohkan sebungkus kacang dengan harga Rp 800. Dengan redenominasi, harganya akan dibulatkan menjadi Rp 1.

"Yang ini sama saja artinya menaikan harganya sebesar Rp 200. Inflasi yang dipaksakan inilah yang akan terjadi serentak setelah pemberlakuan redenominasi," sambungnya.

(dru/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads