Perbankan Indonesia mengalami 3 kendala dalam perkembangannya. Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional (Perbanas) mengungkapkan 3 kendala yang menjadi masalah tersebut yaitu permodalan, infrastruktur dan teknologi.
Ketua Umum Perbanas, Sigit Pramono memandang yang menjadi kendala paling utama perbankan Indonesia adalah permodalan.
"Kita fokus di permodalan. Masalah utama modal, modal, dan modal", kata Sigit dalam seminar perbankan bertema "Peluang dan Tantangan Perbankan Indonesia Menuju Pasar Bebas Asean 2020", di Le Meridien Hotel, Jakarta, Selasa (29/1/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sisanya dari mana? Ini perlu kita pikirkan. Maka kami memberikan masukan kepada pemerintah untuk secara serius memikirkan blue print untuk merumuskan mimpi sebagai bank terbesar di ASEAN," ujarnya.
Saat ini, kata Sigit, belum ada bank di Indonesia yang masuk dalam daftar bank terbesar di ASEAN. Sementara itu, Singapura saja yang merupakan negara terkecil di ASEAN sudah memiliki bank terbesar di ASEAN.
"Singapura sebagai negara terkecil di ASEAN tapi punya bank terbesar di ASEAN," katanya.
Menurut Sigit, ekonomi Indonesia merupakan yang terbesar di ASEAN dengan angka GDP US$ 920 miliar dengan angka per kapita US$ 3.600 dolar per orang dengan jumlah penduduk 251 juta jiwa. Namun, lebih dari 120 juta orang belum berhubungan dengan bank.
"Maka jelaslah bahwa Indonesia akan diserbu oleh bank-bank negara ASEAN lainnya. Peluang jelas bahwa ekonomi seperti lampu dan laron, dimana ada lampu yang paling terang maka laron akan mendekat," kata Sigit.
Untuk itu, Indonesia perlu memperkuat pasar domestik (dalam negeri). "Apalagi, kita susah membuka cabang di luar seperti Malaysia. Kalau tidak siap, nanti di tahun 2020 Indonesia menjadi tamu di rumah sendiri, itu bahaya," tandasnya.
(/)










































