Cadangan devisa Indonesia menunjukkan penurunan yang cukup besar di awal tahun 2013. Sampai akhir Januari 2013, cadangan devisa RI melorot US$ 4 miliar menjadi US$ 108,8 miliar dari US$ 112,8 miliar pada akhir Desember 2012.
"Hari ini kita release cadangan devisa yang turun cukup besar untuk memenuhi kebutuhan (demand) korporasi yang besar, sementara pemasukan (supply) masih terbatas di awal-awal tahun," ungkap Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Hartadi Sarwono dalam pesan singkatnya kepada detikFinance, Kamis (7/1/2013).
Dijelaskan Hartadi, BI akan terus berada di pasar agar nilai tukar terdeviasi tak terlalu jauh dari faktor fundamentalnya. BI, sambungnya juga akan menciptakan onshore reference rate sehingga pelaku pasar di dalam negeri tidak menggunakan Non Deliverable Forward (NDF) di luar negeri (offshore) dalam quotasi transaksinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Juru Bicara BI Difi Johansyah mengatakan Bank Indonesia berencana mengirimkan surat kepada bank komersial untuk melarang perdagangan rupiah non deliverable forward (NDF) dan meminta untuk menggunakan pasar rupiah onshore.
"NDF tidak diperbolehkan karena transaksi ini tidak memiliki underlying asset, surat ini akan dikirimkan berulang untuk mengingatkan perbankan jangan menggunakan NDF," ujar Difi.
Menurut Difi, pihaknya akan memaksa perbankan untuk menggunakan patokan suku bunga lokal. "Kita ingin pasar forward onshore lebih likuid di masa depan dan bisa menjadi patokan," katanya.
Berikut data cadangan devisa RI:
2012
- Januari 2012 : US$ 112 miliar
- Februari 2012 : US$ 112,2 miliar
- Maret 2012 : US$ 110,49 miliar
- April 2012 : US$ 116,4 miliar
- Mei 2012 : US$ 111,5 miliar
- Juni 2012 : US$ 106,5 miliar
- Juli 2012 : US$ 106,56 miliar
- Agustus 2012 : US$ 108,99 miliar
- September 2012 : US$ 110,172 miliar
- Oktober 2012 : US$ 110,3 miliar
- November 2012 : US$ 111,3 miliar
- Desember 2012 : US$ 112,8 miliar
2013
- Januari 2013 : US$ 108,8 miliar











































