Berdasarkan pengamatan detikFinance, para masyarakat umumnya sangat antusias menukarkan uang pecahan besar Rp 50.000-100.000 ke pecahan-pecahan kecil seperti Rp 10.000, Rp 5.000, Rp 2.000 dan Rp 1.000.
"Penukaran uang ini bagus sekali melancarkan usaha, sebelumnya tak ada acara seperti ini. Di sini yang susah itu pecahan Rp 1.000 dan Rp 2.000," kata Mohtar pengusaha rumah makan ketapang di lokasi kas keliling, Supiori, Sabtu (9/2/2013)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Baru kali ini saja. Kalau di BRI paling-paling bisa tukar Rp 100.000-200.000, sekarang saya bisa tukar uang hingga Rp 2 juta," katanya.
Hal yang sama disampaikan oleh Ajas, pedagang sembako dan perabot rumah tangga ini sangat terbantu dengan adanya kas keliling. Ia tak segan-segan mengeluarkan tumpukan uang lusuh dan sobek yang tersimpan lama di laci warungnya karena banyak konsumen yang menolak menerima kembalian uang lusuh.
"Ini uang di laci, orang yang nggak mau dikembalikan. Selama ini saya nukar seratus ribu saja nggak ada. Saya senang sekali terutama pecahan 10.000," katanya.
Perantau asal Surabaya ini kerap harus membawa uang pecahan tak layak ke kampung halamannya untuk ditukarkan. Ia berharap program seperti ini bisa terus berlanjut.
"Saya sebelumnya tukar ke Surabaya sampai Rp 500.000," katanya.
Kegiatan kas keliling di halaman Bank BRI Supiori kali memang tak optimal. Masyarakat yang menukarkan uangnya hanya yang kebetulan lewat, selain itu Bank BRI yang beroperasi di Supiori ternyata tutup pada hari ini, sehingga pihak BI tak bisa melakukan penukaran modal kerja kas keliling ke BRI.
"Penukaran uang bisa dengan cara ritel dengan langsung ke masyarakat, atau bisa juga dengan langsung menukarkan ke bank umum di lokasi," kata Royce salah satu petugas kas keliling BI.
Selain melakukan kas keliling, BI juga melakukan sosialisasi keaslian mata uang rupiah di Kantor Bupati Supiori. Para pesertanya adalah para perangkat desa di seluruh Supiori.
(hen/dnl)











































