Kisah Unik Warga Papua Tukar Uang di Kas Keliling BI

Kisah Unik Warga Papua Tukar Uang di Kas Keliling BI

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Selasa, 12 Feb 2013 08:14 WIB
Kisah Unik Warga Papua Tukar Uang di Kas Keliling BI
Supiori - Bank Indonesia (BI) dan TNI AL menggelar kas keliling, sosialiasi keaslian uang dan survei kelayakan mata uang rupiah di wilayah terpencil di Pulau Supiori, Papua. Bagi masyarakat Supiori, program semacam ini pengalaman pertama mereka.

Kegiatan kas keliling disambut positif warga, namun masih ada warga yang awalnya tak paham soal kegiatan tersebut. Kas keliling bermanfaat bagi masyarakat yang memiliki uang tak layak bisa ditukarkan dengan rupiah yang layak, juga bisa menjadi sarana menukar pecahan besar ke pecahan kecil atau sebaliknya.

Seorang tukang ojek warga Supiori, Benyamin Marir terlihat ragu untuk ikut antrean kas keliling yang dilakukan di halaman Bank BRI Supiori.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah dihampiri, Benyamin mengaku bingung untuk menukarkan selembar uang pecahan Rp 50.000 cetakan lama bergambar tokoh WR Supratman. Selain dalam kondisi sobek, uang tersebut menurut data BI sudah tak berlaku lagi.

Adanya kegiatan kas keliling BI dan TNI AL ternyata menjadi berkah tersendiri bagi Benyamin, maklum saja ia sudah menyimpan uang tersebut selama bertahun-tahun karena tak ada pedagang yang mau menerimanya. Setelah mendapat penjelasan dari petugas BI, bahwa uang pecahan Rp 50.000 semata wayangnya itu masih bisa ditukarkan, wajah Benyamin sangat sumringah.

"Uang ini saya dapat dari penumpang ketika saya ojek malam-malam. Waktu itu saya nggak periksa lagi, ternyata setelah pagi saya periksa uangnya sobek," kata Benyamin kepada detikFinance pekan lalu di acara kas keliling BI dan TNI AL di Kabupaten Supiori, Papua.

Benyamin mengaku senang dengan adanya kas keliling tersebut, setidaknya uang pecahan Rp 50.000 cetakan lama yang ia simpan hingga 5 tahun tersebut kini ia bisa belanjakan.

"Uang ini sudah 5 tahun saya simpan di dompet, waktu itu masih laku," katanya.

Kisah lainnya, dialami oleh warga Supiori. Sebut saja Hendrik, ia termasuk warga yang telat tahu adanya kegiatan kas keliling BI di Supiori. Ia datang tergopoh-gopoh ke pelataran BRI Supiori, ketika tim kas keliling BI mulai menutup kegiatan penukaran uang.

Setelah menghampiri petugas BI, Hendrik mengaku punya uang lembaran bergambar Presiden Soekarno, namun ia tak membawanya. Akhirnya ia diberi kesempatan untuk mengambil uangnya di rumahnya untuk menukarkannya ke tim kas keliling.

Setelah waktu berselang, ia akhirnya membawa satu lembar uang pecahan Rp 25 bergambar Presiden Soekarno dengan berharap dapat ditukar dengan rupiah yang masih berlaku. Rupanya terjadi salah paham, Hendrik mengira uang pecahan bergambar Presiden Soekarno itu bisa ditukar dengan nilai rupiah saat ini yang lebih besar seperti yang biasa dilakukan oleh kolektor uang.

"Saya pernah didatangi oleh kolektor, mereka cari yang bisa lipat pecahan Rp 5.000," katanya kepada petugas kas keliling BI akhir pekan lalu.

Setelah mendapatkan penjelasan petugas, akhirnya ia paham bahwa kegiatan kas keliling BI bukan untuk menukar uang seperti layaknya kolektor namun menukar uang dengan pecahan yang masih berlaku saat ini dengan nilai yang sama. Akhirnya ia gagal menukarkan uang pecahan bergambar Soekarno tersebut.

(hen/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads