Kepulauan Mapia yang terdiri Pulau Brass, Pegun dan Fanildo menjadi salah satu wilayah yang menjadi lokasi kas keliling. Maklum saja, wilayah terluar Indonesia ini terisolir dari pusat ekonomi, kota terdekat adalah Kota Biak yang membutuhkan waktu hingga 24 jam untuk menjangkaunya dengan kapal laut.
Warga Pulau Pegun, Maria mengatakan saking terbatasnya transportasi menuju wilayahnya, ia hanya belanja kebutuhan sehari-hari satu bulan sekali ke Kota Biak. Transportasi yang diandalkan adalah Kapal Perintis bertarif Rp 50.000 yang jadwalnya tak pasti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita sudah tak pakai logam, lebih banyak kertas. Disini ada pecahan kecil Rp 1000 dan 2000, tapi dalam bentuk kertas,"kata Maria kepada detikFinance, di Kapal KRI Sultan Nuku di Kepulauan Mapia, Minggu (10/2/2013)
Sementara itu warga Pulau Brass, Marten mengatakan belum tahu adanya kegiatan kas keliling oleh BI di Kapal KRI Sultan Nuku. Memang tak seperti biasanya, kegiatan kas keliling kali ini, BI hanya melakukannya di Kapal TNI AL dengan pertimbangan efektifitas waktu, justru para warga datang ke Kapal KRI Nuku dengan menumpang speedboat milik Marinir.
"Uang logam kita tak pernah kumpulkan. Kita tahunya acara ini kegiatan sosialisasi untuk menabung, tidak tahu penukaran uang," katanya.
Pada kesempatan itu tim kas keliling BI mengimbau masyarakat untuk tetap mengumpulkan uang pecahan koin, agar dilain waktu bisa ditukarkan pada saat acara kas keliling berikutnya. Pada acara ini transaksi kas keling di kepulauan itu hanya mencapai Rp 400.000.
Kepala Kampung Kepulauan Mapia Andris Msen mengatakan jumlah Kepala Keluarga (KK) di tiga pulau di Kepulauan Mapia saat ini mencapai 57 KK hampir 200 orang. Para warga ini kebanyakan beraktivitas di Kota Biak, rumah mereka di Kepulauan Mapia sebagai rumah kedua karena aktivitas usaha produksi kopra ada di 3 pulau tersebut.
"Dari sekitar 200 warga yang asli sekitar 100 orang. Mereka lebih lama-lama di kota, kebanyakan di kota,di pulau ini jumlahnya nggak tetap, karena anaknya sekolah di kota, kuliah juga disana," kata Andris.
Andris menuturkan, sebagian besar warganya berprofesi sebagai pengolah kopra. Kegiatan perputaran uang di wilayahnya cukup dinamis karena ada usaha penjualan kopra, sirip hiu dan produk perikanan lainnya.
"Mereka menjual ke Bitung, biasanya ada pengumpul yang datang, dijual 1 kg Rp 2.500. Produksi kopra disini sebulan bisa sampai 20-30 ton," kata Andris.
Biasanya setiap KK mampu menghasilkan 4 ton kopra per bulan. Namun kini jumlah produksi kopra per KK menurun rata-rata 3 ton saja karena banyak yang juga menyambi sebagai nelayan pencari sirip hiu, alasanya lebih menjanjikan.
Selain itu, meski berada di pulau terpencil, fasilitas pendidikan di Pulau Brass masih tersedia walaupun sangat sederhana dan memperihatinkan.
Pasalnya, sekolah dasar itu hanya terdapat 20 siswa/siswi dari kelas 1 hingga kelas 6. Jumlah guru yang mengajar ada tiga orang yang semunya tinggal di Biak.
"Sekarang kosong, sekolah sudah dua bulan libur, karena transportasi gurunya hanya pakai kapal perintis yang jadwalnya tidak tentu," ujar seorang anggota Marinir kepada detikFinance.
(hen/ang)











































