Pilihan Presiden SBY yang menunjuk Menteri Keuangan Agus Martowardojo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) dinilai cukup mengagetkan. Di tengah kondisi perekonomian yang stabil, Presiden SBY bisa melakukan blunder ketika posisi krusial di bidang ekonomi 'diutak-atik'.
Komposisi di bidang keuangan saat ini, di mana Menteri Keuangan dipimpin Agus Martowardojo dan Gubernur BI dipimpin Darmin Nasution serta OJK yang dikepalai Muliaman Hadad telah diterima pasar. Hal ini memicu pertumbuhan ekonomi dan kinerja perekonomian yang cukup baik. Namun SBY terlihat seperti 'mengutak-atik' kestabilan ekonomi ini.
Anggota DPR dari Fraksi PDIP Arif Budimanta mengatakan, bidang krusial ekonomi dan politik di negara ini seperti dicampuradukan. Kasus Bank Century yang memang telah berbau politis terus membelenggu pemerintahan SBY.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arif mengaku kaget terkait pencalonan Agus Martowardojo sebagai calon Gubernur BI. "Ini seperti membuat kaget karena yang saya dengar adanya pergumulan dan perdebatan pencalonan Gubernur BI," ujarnya.
Jika dilihat dari sisi ekonomi, kompetensi Agus Marto sangat baik. "Selama beliau di Mandiri kinerja bank tersebut moncer, selama menjadi Menteri Keuangan, stabilitas fiskal terjaga dan terjadi perbaikan tata kelola belanja negara," tuturnya.
Tetapi persoalan pilihan Presiden ini tentu saja bisa dilihat dari perspektif ekonomi-politik. "Kalau dari sisi ini maka persoalan konstelasi politik di kabinetnya Presiden pasti juga memberikan warna dan pengaruh dalam proses pengambilan keputusan pencalonan calon Gubernur BI. Apalagi presiden melalui keterangan berbagai media sebelum mengambil keputusan mencari masukan dan pertimbangan dari menterinya dan berbagai pihak lain," jelasnya.
Lalu, jika Agus Marto terpilih jadi BI-1 maka siapa Menteri Keuangannya?
Menteri Keuangan, sambung Arif, harus bisa diterima pasar. Dengan kata lain, bagaimana stabilitas ekonomi bisa terjaga semua karena faktor Menteri Keuangan. Termasuk menjaga agar kasus Bank Century tidak menjadi bola liar yang bisa mengorbankan siapa saja yang berada dalam pemerintahan.
"Kasus Century yang juga belum beres bisa menjadi bola liar bagi pemerintahan ini. Bagaimana kondisi ekonomi ke depan, semua tergantung Menteri Keuangan dan Gubernur BI selanjutnya," tutup Arif. (dru/dnl)











































