Pemerintah Terima Dana Rp 2,7 T dari Penjualan Bank Permata

Pemerintah Terima Dana Rp 2,7 T dari Penjualan Bank Permata

- detikFinance
Jumat, 08 Okt 2004 16:07 WIB
Jakarta - Pemerintah Indonesia dipastikan menerima dana sebesar Rp 2,77 triliun dari penjualan 51 persen saham Bank Permata yang akan dilepas pada konsorsium Standard Chartered Bank (SCB) dan Astra Internasional. Namun angka penjualan itu masih belum dikurangi biaya lain, sehingga sedikitnya dana yang akan diterima pemerintah setekah dikurangi fee, pajak dan biaya lain menjadi sekitar Rp 2,5 triliun.Perkiraan angka itu diperoleh dari harga yang ditawarkan konsorsium SCB-Astra Internasional yang sebesar 3,18 kali nilai buku dari ekuitas Bank Permata pada Desember 2003. Sementara jika disesuaikan dengan ekuitas Juni 2004 maka angka yang ditawarkan SCB sekitar 2,73 kali."Secara teoritis sebenarnya sama saja, price to book values (PBV) Desember 2030 dengan Juni 2004. Ini hanya membedakan total ekuitas pada 2003 dan Juni 2004," kata Dirut PT PPA M Syahrial di Gedung Depkeu, Jl Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (8/10/2004) .Syahrial juga menjelaskan sesuai persyaratan sales and purchase agreement (SPA) konsorsium SCB diharuskan melock-up kepemilikannya di Bank Permata selama 3 tahun. Ketentuan tersebut menurut Komisaris PPA Raden Pardede sesuai dengan keinginan Menkeu Boediono pada saat menjelaskan divestasi Bank Permata kepada anggota DPR."Jadi waktu itu diminta selama tiga tahun di lock-up agar lead konsorsium tidak bisa kemana-mana. Hal ini pemerintah ingin good banker tetap disitu agar ada jaminan bank dikelola oleh banker yang profesional," kata Pardede.Dengan ketentuan tersebut diharapkan lead konsorsium tetap dipegang oleh SCB. SCB sendiri menyatakan bersedia meski tidak disembunyikan secara tertulis. "Tapi mereka memenuhi seluruh permintaan kita," ungkapnya.Selain itu, lanjutnya, dalam SPA juga dimuat mengenai pembagian dividen dimana pemerintah akan tetap mendapatkan bagian dividen tahun 2004 sampai bulan terakhir kepemilikan pemerintah di Bank Permata. "Jadi tahun depan kita masih akan dapat dividen sampai tahun 2004. Itu kita sudah perhitungkan dalam SPA," terang Pardede.SPA juga memuat rencana bisnis yang akan dilakukan oleh SCB. Diakuinya, dalam melakukan penilaian mengenai rencana bisnis ini pemerintah cukpo kesulitan mengingat konsorsium lain seperti ANZ dan Maybank pun membuat rencana bisnis yang sangat bagus."Setelah seleksi pertama kita sudah mendapat qualified bidder dan setelah itu terjadi persaingan ketat dan harganya meningkat pesat. Untuk quality mereka jago-jago apalagi dalam rencana bisnisnya. SCB, ANZ dan Maybank hampir tidak terlihat perbedaannya dalam rencana bisnisnya," katanya.Pardede juga menyampaikan dalam SPA juga dimuat mengenai pengaturan pembagian direksi. Pemerintah sendiri meminta kepada SCB melakukan training kepada tenaga lokal di Bank Permata. "Pokoknya kita ingin mereka lebih pro ke karyawan lokal," tegasnya. (san/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads