Defisit AS Membengkak, BI Yakin Rupiah Bisa Terus Menguat

Defisit AS Membengkak, BI Yakin Rupiah Bisa Terus Menguat

- detikFinance
Jumat, 15 Okt 2004 14:39 WIB
Jakarta - Bank Indonesia memperkirakan nilai tukar Rupiah akan terus menguat diantaranya dipengaruhi faktor domestik dan membengkaknya current account defisit AS yang saat ini ada di posisi US$ 54 miliar.Hal ini disampaikan Deputi Gubernur BI Aslim Tadjudin saat dicegat usai Sholat Jumat di Gedung BI, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Jumat (15/10/2004)."Saya perkirakan Rupiah akan stabil dan cenderung menguat. Salah satu faktor yang mendorong penguatan Rupiah pertama dari sisi domestik karena adanya persepsi positif akan adanya pemerintahan baru. Dan mudah-mudahan kabinetnya diterima pasar dan masyarakat," kata Aslim.Sementara faktor kedua dari sisi eksternal yakni posisi dolar AS yang tidak sekuat yang diprediksikan sebagian orang. Sampai Agustus lalu, current account defisit AS tercatat US4 54 miliar. Dan posisi itu cukup besar sehingga tidak mungkin dolar AS akan menguat karena penguatan dolar AS justru akan memperbesar current accountnya. "Jadi dari faktor eksternal dan internal ada persepsi positif terhadap Rupiah. Jadi mudah-mudahan Rupiah tetap stabil," ujar Aslim.Base Money TerkendaliTerkait dengan base money atau jumlah uang beredar selama Ramadan, Aslim meyakini posisinya cukup terjaga dan sesuai target bahkan saat ini posisinya masih jauh dibawah target yakni Rp 160 triliun. Namun terlepas dari itu, menurut Aslim, yang terpenting saat ini adalah bagaimana BI mampu memelihara likuiditas perekonomian sesuai target pertumbuhan ekonomi yang diinginkan. "Karena kalau terlalu ketat, ekonomi kita tidak bergerak. Jadi sejauh ini kita bersyukur indikator makro cukup bagus. Dan saya lihat dari segi inflasi kita bisa menekan sampai dibawah 6 persen," tambahnya.Asumsi tersebut menurutnya didasarkan pada besaran inflasi pada September yang berada di posisi 3,8 persen. Diharapkan dalam 3 bulan kedepan inflasi bisa ditekan sekitar 2,2 persen sehingga sepanjang tahun laju inflasi bisa mencapai 6 persen. Saat ditanya apakah terjadi peningkatan base money selama puasa, Aslim memastikan peningkatannya tidak terlalu banyak mengingat kondisi ini merupakan suatu rutinitas dimana setiap Lebaran, Puasa, Natal dan tahun baru dipastikan ada tambahan permintaan. Karena itu, lanjut Aslim, kunci utama yang harus diutamakan adalah menjaga pasokan yang diminta masyarakat. "Dari sisi kebijakan moneter jelas kita akan mengatur jumlah uang beredar sesuai yang dibutuhkan karena tidak bagus juga kalau kita terlalu mengetatkan karena tidak mendorong pertumbuhan ekonomi," kata Aslim. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads