Jelang Pasar Bebas ASEAN 2015, 70% UKM Belum Dapat Akses Perbankan

Jelang Pasar Bebas ASEAN 2015, 70% UKM Belum Dapat Akses Perbankan

Wiji Nurhayat - detikFinance
Rabu, 29 Mei 2013 11:42 WIB
Jelang Pasar Bebas ASEAN 2015, 70% UKM Belum Dapat Akses Perbankan
Jakarta - Indonesia bersiap akan mengikuti pasar bebas ASEAN tahun 2015. Negara ASEAN nantinya akan bersaing mencari pasar sebesar-besar termasuk Indonesia.

Namun kalangan pengusaha muda pesimis Indonesia bisa bersaing dengan negara lainnya. Pasalnya banyak sektor usaha kecil menengah (UKM) di Indonesia yang belum mendapatkan akses bantuan permodalan dari pemerintah.

"Saya melihat laporan Bank Indonesia dimana 60 hingga 70% sektor UKM kita belum mendapatkan akses permodalan. Ini tantangan kita bagaimana sektor UKM kita bisa mendapatkan akses permodalan sehingga ada dukungan mengembangkan usaha saat pasar bebas ASEAN 2015," ungkap Ketua BPD HIPMI Jaya Andika Anindya Wiguna saat memberikan sambutan seminar kewirausahawan di Gedung Smesco Jakarta, Rabu (29/05/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Syariefuddin Hasan mengatakan hal sebaliknya. Menurutnya pemerintah sudah merancang bagaimana memberikan bantuan akses permodalan yang mudah dan terjangkau bagi sektor UKM di Indonesia salah satunya melalui kredit usaha rakyat.

"Pemerintah sudah melakukan banyak kebijakan seperti memfasilitasi UKM melalui KUR (kredit usaha rakyat). Tahun 2013 setidaknya kita mempunyai target penyaluran KUR sebesar Rp 35 triliun. Namun penyerapan KUR sampai bulan Mei 2013 saja sudah Rp 15 triliun," tuturnya.

Ia menambahkan penyaluran KUR kepada sektor UKM di Indonesia selalu melebihi target yang ditetapkan. Tahun 2012 saja penyaluran KUR mencapai Rp 33,5 triliun jauh lebih tinggi dari target yang ditetapkan sebesar Rp 30 triliun.

"Penyaluran KUR selalu melampaui target. Tahun 2012 penyaluran KUR itu sebesar Rp 33,5 triliun dari target Rp 30 triliun. Memang apabila dibandingkan dengan negara lain, bunga bank kita jauh lebih tinggi. Namun kita sudah menurunkan hingga 0,95% per bulan," katanya.

(wij/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads