Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 13 Juni 2013 memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 6%. Apa alasan bank sentral? Apakah karena anjloknya rupiah atau inflasi yang melambung?
"Kebijakan tersebut merupakan bagian dari bauran kebijakan Bank Indonesia untuk secara pre-emptive merespons meningkatnya ekspektasi inflasi serta memelihara kestabilan makroekonomi dan stabilitas sistem keuangan di tengah ketidakpastian di pasar keuangan global," ungkap BI dalam siaran persnya yang disampaikan Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacobs, Kamis (13/6/2013).
BI mengaku siap melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai kondisi fundamentalnya dan terus menjaga kecukupan likuiditas di pasar valas domestik. Bank sentral juga melanjutkan penguatan operasi moneter melalui pengayaan instrumen moneter dan pendalaman pasar uang rupiah dan valas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, perekonomian Indonesia pada triwulan II-2013 diprakirakan bias ke batas bawah dari kisaran prakiraan sebelumnya sebesar 5,9% - 6,1% sejalan dengan melemahnya perekonomian global.
Berlanjutnya krisis di Eropa dan perlambatan ekonomi China berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi global untuk semakin bias ke bawah. Perkembangan tersebut berdampak pada terbatasnya pertumbuhan ekspor dan investasi, khususnya investasi non-bangunan. Sementara itu, dorongan pertumbuhan terutama berasal dari konsumsi rumah tangga dan investasi bangunan yang diprakirakan masih cukup kuat.
Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan Mei 2013 kembali mencatat deflasi, namun ekspektasi inflasi meningkat. IHK Mei 2013 tercatat -0,03% (mtm) atau 5,47% (yoy) didorong oleh deflasi harga kelompok volatile foods seiring membaiknya pasokan pangan.
"Namun demikian, Bank Indonesia mencermati ekspektasi inflasi yang meningkat terkait dengan rencana kebijakan subsidi BBM yang akan ditempuh Pemerintah. Sementara itu, tekanan administered prices cenderung meningkat terkait penerapan tarif tenaga listrik tahap II dan kelangkaan LPG," jelas Peter.
Ke depan, selain memperkuat bauran kebijakan Bank Indonesia juga akan meningkatkan langkah-langkah koordinasi dengan Pemerintah untuk mengendalikan ekspektasi inflasi dengan menjaga pasokan bahan pangan dan memitigasi dampak lanjutan dari rencana kenaikan harga BBM. (dru/dnl)











































