RDG yang dipimpin Mantan Menteri Keuangan tersebut hari ini, Kamis (13/6/2013) menghasilkan keputusan untuk menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 bps.
BI Rate yang ditahan selama setahun lebih di posisi 5,75% kini lompat ke 6%. Apa ini awal dari 'hilangnya' rezim suku bunga rendah yang diusung Mantan BI-1 Darmin Nasution?
Darmin yang memimpin BI hampir selama 4 tahun berhasil menurunkan suku bunga rendah sebanyak 8 kali sejak menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior. BI Rate ditarik ke bawah hingga level 6,5% pada awal Agustus 2009 dari akhir 2008 masih bertengger 9,25%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sesaat setelah lengsernya Darmin Nasution, RDG BI pada 13 Juni 2013 yang dipimpin Gubernur BI Agus Martowardojo pertama kali memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 6,00%. Padahal baru saja BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility alias Fasbi sebesar 25 bps. Para analis-pun tidak menyangka BI Rate akan naik.
"Saya kira BI Rate akan bertahan di 5,75%. Kenaikan BI Rate baru terjadi setelah BBM dinaikkan karena inflasi sudah pasti akan naik," jelas Chief Economist Bank Danamon Anton Gunawan, Kamis (13/6/2013).
Managing Director & Senior Economist Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan juga mengatakan, BI diperkirakan belum akan menaikkan BI Rate di tahun ini, terutama pada bulan ini. Karena BI akan lebih memilih strategi untuk menaikkan Fasbi Rate.
"Jika BI menaikkan BI Rate, maka akan terlalu banyak menarik perhatian. Kalau Fasbi Rate naik kan tidak terlalu banyak menarik perhatian. Nah kalau BI Rate-nya yang naik, ini akan mengundang perhatian, ya termasuk DPR juga banyak dipantau oleh para politis," kata Fauzi.
Ternyata tidak! BI menaikkan BI Rate-nya. Ekonom Dradjad Wibowo mengatakan, BI Rate naik karena efek kegagalan menjaga defisit perdagangan. Alhasil, masyarakat kena dampaknya.
"Pertama, rupiah cenderung anjlok terhadap dolar AS. Ini nanti akan membuat barang-barang seperti HP, gadget, sepeda motor, bahkan tempe semakin mahal. Karena, barang-barang tersebut masih impor dan atau bahan baku dan bahan antara-nya impor," paparnya.
Kedua, bunga kredit merayap naik. "Kenaikan BI rate ini menjadi pengakuan BI bahwa mereka sudah tidak sanggup menjaga rupiah hanya melalui intervensi pasar," tegas Dradjad.
Seperti diketahui, RDG yang dipimpin Agus Marto menaikkan BI Rate dengan alasan ekspektasi inflasi.
"Kebijakan tersebut merupakan bagian dari bauran kebijakan Bank Indonesia untuk secara pre-emptive merespons meningkatnya ekspektasi inflasi serta memelihara kestabilan makroekonomi dan stabilitas sistem keuangan di tengah ketidakpastian di pasar keuangan global," ungkap BI dalam siaran persnya yang disampaikan Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacobs.
Apakah ini pertanda hilangnya rezim suku bunga rendah? Kita lihat saja..
(dru/dnl)











































