Lelang SUN Diperkirakan Bakal Alami Kelebihan Pesan
Senin, 25 Okt 2004 12:19 WIB
Jakarta - Lelang surat utang negara FR0026 sebesar Rp 3 triliun yang akan dilaksanakan besok diperkirakan akan mengalami over subsribed. Pasalnya, permintaan terhadap SUN saat ini masih tinggi, terutama dari dana pensiun dan asuransi."Saya perkirakan masih akan over subcribed karena demand-nya masih tinggi, terutama dari asuransi dan dana pensiun. Apalagi, antusias investor sangat besar untuk membeli SUN di pasar primer karena mendapat diskon," kata Head of Debt Research PT Mandiri Sekuritas Kahlil Rowter di Gedung BEJ, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta, Senin, (25/10/2004).Menurut Kahlil, pembelian di pasar primer dalam lelang SUN sangat diminati investor karena selain harganya didiskon, surat utang yang didiamkan saja hingga akhir jatuh tempo itu sudah memberikan keuntungan.Mengenai tingkat imbal hasil untuk FR0026 yang berjangka waktu 10 tahun itu, ia memperkirakan bisa di atas 11 persen, tetapi masih di bawah 12 persen.Namun demikian, jika pemerintah ingin mendapatkan yield yang bagus, maka pemerintah harus mengikuti gerakan pasar setiap melakukan lelang.Mengenai dampak tingginya harga minyak mentah dunia yang di atas 55 dolar AS/barel terhadap perdagangan obligasi, menurut Kahlil, secara tidak langsung hal itu baru akan mempengaruhi inflasi, di mana jika inflasi naik maka ada kecenderungan suku bunga arahnya pasti ke atas. Namun demikian, ia menilai untuk mengatasi inflasi akibat tingginya harga minyak dunia tidak bisa dilakukan dengan menaikkan suku bunga karena hal tersebut justru akan menambah beban biaya industri dan masyarakat.Menurutnya, ada satu cara untuk mengatasi inflasi akibat tingginya harga minyak dengan cara kebijakan income policy yaitu menciptakan kenaikan upah dan harga. Sayangnya, kebijakan tersebut tidak populer dan jarang dilakukan sehingga pemerintah harus menempuh kebijakan untuk menaikkan fleksibilitas dalam perekonomian."Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah apakah harga minyak akan terus tinggi atau kembali lagi ke level 40 dolar AS/barel, angka yang lebih managable. Karena pada saat harga minyak naik terjadi inflasi dan permintaan yang menurun, di mana pada saat itu jika suku bunga dinaikan biaya produksi meningkat lagi dan perusahaan akan banyak yang bangkrut dan bisa terjadi resesi kalau menimpa secara global," paparnya.Saat ini, lanjut dia, pasar sedang melihat bagaimana APBN 2005 nantinya akan ditentukan. Pasalnya, jika harga BBM pada Januari dinaikkan hal ini bisa memicu kenaikan inflasi. Namun, dalam kondisi tersebut, BI mestinya tidak menaikkan suku bunga."Karena kenaikan inflasi akibat kenaikan BBM tidak bisa diatasi dengan kenaikan bunga," ujar Kahlil.
(mi/)











































