BRI Tak Mau Ikut Naikkan Bunga Kredit

BRI Tak Mau Ikut Naikkan Bunga Kredit

- detikFinance
Selasa, 30 Jul 2013 18:39 WIB
BRI Tak Mau Ikut Naikkan Bunga Kredit
Foto: BRI (dok-detikFinance)
Jakarta - Manajemen PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) sepakat untuk tidak menaikkan suku bunga kreditnya, meskipun Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuannya (BI Rate) sebesar 0,75 bps menjadi 6,5%.

Direktur Keuangan BRI Achmad Baiquni mengatakan, meskipun bank lain berencana menaikkan suku bunga kredit, namun pihaknya memilih untuk tidak menaikkan suku bunga kreditnya.

"Kita berhati-hati menaikkan suku bunga kredit, karena bunga dinaikkan belum tentu juga bisa meningkatkan net interest margin (NIM)," kata Baiquni saat konferensi persnya, di Gedung BRI 1, Jakarta, Selasa (30/7/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menjelaskan, keputusan untuk tidak menaikkan suku bunga kredit karena perusahaan berusaha untuk tetap menjaga tingkat risiko kredit macet (NPL) seminimal mungkin. Saat ini, NPL perseroan terjaga di angka 0,41% di semester I-2012 atau lebih kecil dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 0,55%. "Tidak menaikkan bunga karena pertimbangan NPL juga," katanya.

Selain itu, Baiquni menyebutkan, alasan lain dikarenakan pihaknya lebih fokus untuk meningkatkan volume kredit dan laba perseroan di tahun ini.

"Kita juga fokus menaikkan bottom line ya karena volume kredit naik pesat maka akan meningkatkan margin," ujarnya.

Baiquni menyebutkan, BRI optimistis bisa meraih peningkatan laba bersih perseroan sepanjang tahun ini sebesar 10-15% dari perolehan laba bersih tahun sebelumnya. Hingga semester I-2013 saja, laba bersih perseroan sudah mencapai Rp 10,012 triliun.

"Target laba 10-15%, 10% paling aman karena kalau dilihat semester dua ini beda dengan semester satu karena inflasi tinggi mendorong cost of fund karena kredit juga kebanyakan rate-nya floating," kata dia.

Perseroan juga menargetkan pertumbuhan kredit sepanjang tahun ini bisa meningkat 22-24%. Per semester I-2013, pertumbuhan kredit perseroan tercatat naik 28,5% menjadi Rp 391,77 triliun.

"Untuk kredit akan terjadi perlambatan dibanding semester satu, tapi pertumbuhan ini masih di atas industri yang 20-22%," kata dia.

(dnl/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads