Ekonomi RI 'Dihantui' Krisis, Saatnya Beralih ke Bisnis Syariah

Ekonomi RI 'Dihantui' Krisis, Saatnya Beralih ke Bisnis Syariah

Herdaru Purnomo - detikFinance
Kamis, 29 Agu 2013 10:17 WIB
Ekonomi RI Dihantui Krisis, Saatnya Beralih ke Bisnis Syariah
Jakarta -

Lembaga keuangan berbasis syariah adem ayem di tengah gonjang-ganjing perekonomian saat ini. Syariah dianggap lebih tangguh dalam menghadapi ketidakstabilan perekonomian global, karena sistem ekonomi ini bebas dari unsur derivatif dan produk spekulatif.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D.W. Martowardojo pernah mengungkapkan, sistem ekonomi syariah yang berbasis syariah Islam memiliki potensi yang besar mengingat posisi Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia.

Sistem ekonomi syariah telah menjadi bagian yang integral dalam sistem perekonomian Indonesia. "Perbankan syariah ini kekuatan lain yang cenderung resisten di tengah ancaman ketidakstabilan global," ujar Agus Marto.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Agus mengungkapkan, ekonomi berbasis syariah tidak hanya bergerak di sektor perbankan, tetapi juga sudah diadaptasi di berbagai lembaga keuangan lainnya seperti sektor asuransi, pegadaian, serta pasar modal, dan komoditas berbasis syariah yang baru saja diluncurkan tahun ini.

Peneliti dan pengajar Financial Public Relations dan International Public Relations di Taylor's University, School of Communication, Rizky Wisnoentoro mengungkapkan, hampir semua bank syariah di Indonesia berorientasi ke sektor riil dan sektor menengah ke bawah.

"Kebanyakan mereka tidak memprioritaskan produk-produk bursa seperti sukuk atau lainnya. Nah, di titik ini, itulah sisi positif dari perbankan syariah di Indonesia. Karena orientasi bisnis mereka dengan sendirinya memiliki efek social development," ungkapnya kepada detikFinance, Kamis (29/8/2013).

Menurut mantan Bankir di BNI Syariah ini, perbankan syariah di Indonesia termasuk yang kuat terhadap krisis. Dikatakan Rizky, lembaga keuangan syariah dan konsep ekonomi syariah lebih berpeluang untuk mengembangkan infrastruktur ketimbang mengandalkan investasi bursa yang relatif lebih mengambang, rentan untuk datang dan pergi.

"Pasar bursa tentunya masih dapat diandalkan, hanya saja saat ini tampaknya akan lebih baik jika Indonesia mulai memprioritaskan pembangunan infrastruktur. Agar peningkatan pembangunan betul-betul dapat dirasakan," imbuhnya.

(dru/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads