Ia menuturkan persoalan internal, yaitu defisit transaksi berjalan adalah satu fokus yang harus diselesaikan dalam waktu dekat. Untuk itu diperlukan kebijakan dalam menahan impor sebagai solusinya.
"Apa yang dilakukan oleh BI saat ini sudah cukup baik. Mau nggak mau untuk menahannya ya bunga mesti dinaikan. Kalau tidak kasih respon maka kita (rupiah) akan digoyang terus," ujar Mirza dalam fit and proper test DGS BI di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (3/9/2013)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat ada gejala current account defisit di awal tahun 2012 yang sebenarnya gejalanya dari akhir 2011. Harusnya kita sudah bereaksi. Tapi moneter tidak bereaksi dan fiskal bereaksi di tahun 2013," jelasnya.
Sementara untuk kondisi eksternal, menurut Mirza ada beberapa alasan yang harus dimengerti secara komprehensif. Ia menjelaskan, ketergantungan Indonesia terhadap asing, khususnya Amerika Serikat (AS) sudah terjadi sejak dulu.
"Indonesia kurang pendanaan dari dalam negeri. Itu faktanya dari dulu. Selama saving itu lebih kecil dari investasi yang tejadi maka kita perlukan dana dari luar negeri. Sehingga karena negara ini memerlukan pertumbuhan ekonomi, maka dana datangnya dari asing," papar Mirza.
Maka dari itu, ketika ada keinginan Bank Sentral Amerika untuk menghentikan stimulus, negara seperti Indonesia akan menerima dampaknya. Tentu ini tidak hanya terjadi pada Indonesia, akan tetapi juga terhadap negara-negara lain di dunia.
"Anekdot kita Gubernur BI di dunia itu adalah Bernanke, Jadi apa yang dia lakukan akan berdampak terhadap dunia," pungkasnya..
(mkj/dru)











































