"Kenaikan suku bunga tersebut merupakan langkah-langkah lanjutan dari penguatan bauran kebijakan Bank Indonesia yang difokuskan untuk pengendalian inflasi, stabilitas nilai tukar rupiah, serta untuk memastikan berlangsungnya penyesuaian defisit transaksi berjalan pada tingkat yang sustainable," kata Juru Bicara BI, Difi Johansyah dalam siaran persnya, Kamis (12/9/2013).
Difi menambahkan, langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah sejalan dengan kondisi fundamental terus dilakukan serta didukung upaya penguatan operasi moneter dan pendalaman pasar valas. BI juga terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan FKSSK untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional, khususnya dalam pengendalian inflasi, stabilitas pasar keuangan, serta penurunan defisit transaksi berjalan dan kesehatan neraca pembayaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih jauh, Difi menjelaskan BI melihat perlambatan ekonomi dan ketidakpastian keuangan global ke depan masih berlanjut. Pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2013 diperkirakan melambat menjadi 3,0%, dari semula 3,1%, akibat melambatnya pertumbuhan negara emerging, terutama China dan India.
Harga komoditas dunia juga masih menurun, kecuali harga minyak. Sementara itu, ketidakpastian terkait rencana pengurangan bertahap (tapering) stimulus moneter oleh the Fed dan juga potensi pergeseran arah ekonomi global juga terus dicermati.
"Pada tahun 2014, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia mencapai 3,5%, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,7%," terang Difi.
"Bank Indonesia merevisi ke bawah perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2013 menjadi 5,5-5,9%, dari semula 5,8-6,2%. Dari sisi domestik, perlambatan ekonomi tersebut terlihat dari berbagai hasil survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia seperti survei penjualan eceran dan survei keyakinan konsumen yang mengindikasikan bahwa konsumsi rumah tangga cenderung melambat pada semester II-2013," tutup Difi.
(dru/dnl)











































