"Tolong dipikirkan seluruh negara di dunia mengalami pertumbuhan ekonomi yang melambat. Oleh karena itu wajar kalau kita tidak bisa berlari terlalu kencang sementara yang lain melambat," kata Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo saat ditemui di Gedung BI, Jakarta, Jumat (13/9/2013).
Menurutnya, BI tidak melakukan pengetatan yang berlebihan atas keputusannya menaikkan kembali suku bunga acuannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menjelaskan, keputusan itu diambil semata-mata untuk bisa mengurangi defisit neraca berjalan.
"Tapi masalah kita sekarang ini adalah defisit current account yang besar, itu harus turun. Impor-impor harus turun karena kita tidak bisa mendorong ekspor terlalu lanjut," kata dia.
Selain itu, Perry menilai jika kenaikan BI Rate merupakan hal yang wajar karena kebijakan yang dilakukan tak lain salah satunya untuk kembali menggairahkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
"Dan wajar memang berbagai policy yang kita lakukan memang domestic demand melambat. Dengan suku bunga, nilai tukar, pengendalian kredit dan lain-lain. Kita juga berpegangan dengan erat dengan pemerintah untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian ini, agar kita menuju kepada soft landing," kata Perry.
(drk/dru)











































