"Secara umum suku bunga 150 bps (basis point) dan sekarang BI Rate 7,25% dan Fasbi (Fasilitas Pinjaman Bank Indonesia) 5,5%, itu sudah cukup, kita bisa mengcover inflasi tahun depan," ucap Mirza kektika ditemui di Gedung Paripurna DPR, Selasa (17/9/2013).
Dikatakan Mirza, para ekonom melihat apakah Fasbi dan BI Rate sudah cukup itu dapat dilihat dari angkanya Fasbi dan BI rate jauh lebih tinggi dari pada target inflasi tahun depan maka BI Rate saat ini sudah cukup.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun kata Mirza untuk menghadapi situasi ekonomi saat ini tidak bisa mengandalkan kenaikan suku bunga saja. "Kalau mengandalkan suku bunga, suku bunga kredit bakal naik sangat tinggi," ujarnya.
Kata Mirza yang harus dilakukan saat ini adalah mengendalikan impor BBM.
"Secara umum kita harus kendalikan impor, terutama impor migas, kalau dari hanya suku bunga tidak bisa, kalau suku bunga naiknya suku bunga akan tinggi sekali. Kenaikan suku bunga saat ini pun hanya untuk sementara agar modal asing tidak keluar, ya memang untuk sementara waktu terpaksa suku bunga dinaikkan dan untuk sementara waktu pertumbuhan kredit harus diturunkan," jelasnya.
Seperti diketahui akibat tingginya impor BBM membuat neraca pembayaran Indonesia khususnya pada kuartal II 2013 mencapai 4,4%, defisit anggaran ini dinilai di atas normal karena sebagai negara berkembang defisit anggaran Indonesia normalnya hanya 2%.
(rrd/dru)











































