"Kita tahu ekononomi dunia dan Indonesia cukup menantang, kita bisa lihat di Amerika sudah 3 hari mereka berdebat soal APBN pemerintah dan parlemen sehingga sebagian fungsi dari pemerintahan tutup. Di Indonesia sendiri banyak tantangan baik dari dalam maupun luar," kata Mirza saat ditemui usai pelantikan DGS Bank Indonesia di Gedung MA, Jakarta, Kamis (3/10/2013).
Meskipun pemerintah AS telah ditutup, namun pengaruhnya terhadap rupiah masih kuat. "Namanya negeri pencetak dolar ya jadi belum berpengaruh, dolar masih kuat, kalau deadlock terlalu lama pasti mulai berpengaruh," kata dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu yang dilihat oleh kreditur luar negeri dan investor bagaimana Indonesia bisa mengatasi ekonomi jangka pendek dan pembayaran utang," ujar dia.
Selain itu, tantangan selanjutnya adalah bagaimana Indonesia bisa mengurangi impor dan meningkatkaan eskpor.
"Cina pertumbuhan ekonominya sudah tidak turun lagi dan sudah bottom. Ekonomi AS dan Jepang sebenarnya pada situasi yang recovery. Kalau bisa meningkatkan ekspor, kita ada harapan, jadi memang kurs sekarang berada di ekuilibrium baru, setelah memperbaiki neraca pembayaran, kurs bisa meguat kembali," paparnya.
Dari sisi utang, Mirza menjelaskan jika rasio utang Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih rendah di angka 30%, sementara utang Amerika Serikat (AS) terhadap PDB sudah sangat tinggi mencapai di atas 60%.
"Amerika negara maju juga utangnya banyak, besar dari sisi utang terhadap PDB, malah jauh lebih besar dari Indonesia. Kalau Indonesia rasionya sekitar 30%, kalau AS sudah di atas 60% dari PDB. Jadi pemerintah AS kalau negara berkembang harus disiplin fiskal mereka juga harus disiplinkan utang," kata Mirza.
Terkait rupiah, menurutnya, kondisi mata uang merupakan gambaran fundamental suatu negara. Namun, tidak berarti melemahnya mata uang dianggap ekonominya lemah juga.
"Mata uang itu menggambarkan fundamental suatu ekonomi tapi bukan berarti menguat terus itu baik, jangan-jangan 2 tahun lalu di level 9000-an itu malah itu kredit digenjot terlalu kencang dan orang banyak meminjam dolar jadi mendorong impor. Kurs di level Rp 11.000 malah bagus untuk meningkatkan daya saing kita," ucap Mirza.
(drk/dru)











































