Uang Palsu di Bali Melonjak 1000%
Senin, 08 Nov 2004 10:38 WIB
Jakarta - Peredaran uang palsu (upal) di Bali pada tahun 2004 mengalami peningkatan sebesar 1000 persen dibandingkan tahun 2003. Sementara peredaran uang rusak yang masuk ke Bank Indonesia Denpasar mencapai 20% dari Rp 600 miliar. Hal itu disampikan pimpinan Bank Indonesia Cabang Denpasar Ketut Sanjaya dalam jumpa pers di kantor BI, Jl.WR Supratman, Denpasar, Senin (8/11/2004).Peredaran uang palsu pada tahun 2002 sebsar Rp 3.210.000. Tahun 2003, Rp 2.350.000. Pada tahun 2004 hingga 5 November mencapai Rp 43.930.000. Rinciannya, uang pecahan Rp 100 ribuan sebanyak Rp 33.900.000. Pecahan Rp 50 ribuan, Rp 9.650.000. Pecahan Rp 20 ribuan, Rp 300.000. Pecahan Rp 10 ribuan, sebanyak Rp 80.000.Ketut Sanjaya menjelaskan, belakangan ini, tren peredaran uang palsu mencapai peningkatan. Di Bali, sudah empat pelaku pengedar uang palsu yang divonis Pengadilan Negeri Denpasar. Di antaranya seorang perempuan bernama Mandra yang divonis 5 tahun penjara.Uang palsu umumnya dipasok dari Jember dan Banyuwangi, Jawa Timur. Barang haram itu juga banyak ditemukan dari laporan perbankan, ditemukan di loket-loket oleh masyarakat dan dari pengolahan setoran bank. Uang rusak (lusuh/robek) yang masuk ke BI Denpasar mencapai 20% dari Rp 600 miliar.Untuk mengantisipasi Lebaran, BI Denpasar telah mempersiapkan Rp 832 miliar. "Jika kenaikan penarikan uang menjelang Lebaran cukup besar, kita akan melakukan resmise (pemindahan uang dari BI satu ke BI lain)," kata Ketut Sanjaya.Untuk Lebaran tahun ini, BI Denpasar memprediksi penarikan uang mengalami peningkatan 10% dari tahun lalu. Tahun lalu penarikan uang menyambut lebaran Rp 400 miliar, sekarang diprediksi Rp 450 miliar.Untuk memperlancar proses penarikan uang, BI menunjuk 2 perusahaan di Bali yaitu PT Sektor Indonesia dan PT Kejar Indonesia.
(nrl/)











































