"Risiko AS memang kita harus cermati, dengan adanya government shutdown memang muncul 2 fenomena," kata Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo di Gedung BI, Selasa (8/10/2013).
Fenomena pertama, menurut Perry adalah kecenderungan pertumbuhan ekonomi AS akan lebih rendah, karena ada operasi pemerintah yang turun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fenomena kedua, sambung Perry yakni negara berkembang akan terkena dampak portofolio asing masuk. "Hal ini dikarenakan penurunannya yield (imbal hasil) di AS," tuturnya.
Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara mengungkapkan bank sentral akan terus waspada mengenai penutupan pemerintahan AS.
"Tapi harus optimis juga, bahwa kongres dan senat mencapai kesepakatan, mengenai budget dan debt ceiling," tutur Mirza.
Menurut Mirza, BI terus mencermati perekonomian global yang cenderung melambat dan diliputi oleh ketidakpastian yang tinggi. Kinerja perekonomian di negara-negara maju seperti AS, Eropa dan Jepang belum kuat meski mulai menunjukkan perbaikan.
"Sementara itu, perekonomian negara berkembang dibayangi risiko penurunan pertumbuhan ekonomi serta menurunnya kinerja transaksi berjalan dan pelemahan nilai tukar. Pada saat yang sama, penurunan harga komoditas masih terus terjadi, kecuali harga minyak," tutup Mirza.
(dru/dnl)











































