Direktur Utama Bank Mandiri Budi G Sadikin mengatakan perbankan di Indonesia sudah ada sejak 350 tahun lalu. Dalam kurun waktu tersebut baru ada 20.000 kantor cabang bank. Padahal untuk melayani 200 juta lebih penduduk Indonesia setidaknya membutuhkan 300.000 kantor cabang.
"Kalau bank masih pakai cabang, itu prosesnya lama banget. Nggak bakal bisa kekejar 1.400 tahun lagi," kata Budi kepada detikFinance, Selasa (15/10/2013)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk mengcover semua rakyat Indonesia, kayak Telkomsel dan Indosat butuh 300.000 counter jual voucher, Coca Cola, Aqua paling segitu juga 300.000 - 400.000 dan rokok juga. Jadi kalau mau masuk ke seluruh penjuru Indonesia dengan akses geografis seperti ini harus mempunyai 300.000 - 400.000 toko. Sementara bank baru ada 20.000. Itu nggak bisa layanin 200 juta orang, kenapa? Tokonya sedikit," paparnya.
Menurutnya 1.400 tahun tersebut bisa dipersingkat menjadi 10 tahun. Asalkan dalam 1 bulan, ada 2 kantor cabang yang dibuka. Namun kondisinya, untuk membangun 1 kantor cabang dibutuhkan uang Rp 1 miliar.
"Bisa ekspansi jadi 300.000. Saya bangun 1 cabang Rp 1 miliar. Sekarang Mandiri saja baru 2.000 cabang, nambah 100.000 cabang berarti Rp 100 triliun kan," sebutnya.
Perseroan tengah mendorong layanan branchless banking atau bank tanpa kantor cabang. Layanan ini memanfaatkan teknologi komunikasi, yaitu ponsel untuk mengganti kantor cabang. Sehingga kegiatan seperti menabung, transfer dan transaksi lainnya dapat dilakukan dengan mudah.
"Itu makanya kita dua tahun lalu minta izin ke BI untuk ngajuin branchless banking," ujar Budi.
Uji coba layanan ini sudah dilakukan dari Mei 2013 hingga November 2013 mendatang. Pelaksanaan uji coba di 8 kota yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.
(mkj/hen)











































