Meningkatnya Usia Harapan Hidup Masyarakat Indonesia
|
|
Pada tahun 1990, usia harapan hidup masyarakat Indonesia mencapai 59,8 tahun dan di tahun 2000, angka ini bertambah menjadi 64,5 tahun. Satu dekade kemudian, yaitu tahun 2010, usia harapan hidup Indonesia berada pada angka 67,4 tahun dan di tahun 2011, usia harapan hidup di Indonesia mencapai 68 tahun untuk laki-laki dan 72 tahun untuk perempuan.
Tentu ada yang harus disyukuri dengan semakin meningkatnya usia harapan hidup di negeri ini. Namun di sisi yang lain, mengingat rata-rata usia pensiun di Indonesia adalah 55 tahun, itu berarti seorang individu akan menghabiskan 13 sampai 17 tahun untuk masa pensiunnya.
Bagaimana jika seandainya Anda diberikan umur lebih panjang dan bisa hidup sampai usia 80 atau 85 tahun? Kemungkinan ini bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi, bahkan ada beberapa orang yang hidup sampai usia 100 tahun.
Disadari atau tidak, durasi masa pensiun Anda bisa sama dengan durasi masa produktif Anda. Perbedaannya adalah di masa pensiun Anda, kemampuan Anda untuk memperoleh penghasilan layaknya ketika Anda masih bekerja dulu akan berkurang, sementara Anda tetap membutuhkan dana untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari.
Dus, berkah usia yang panjang ini tentu hanya bisa menjadi sesuatu yang membahagiakan ketika Anda bisa menikmatinya tanpa perlu khawatir akan kemampuan finansial Anda sendiri.
Dari data usia harapan hidup di atas, terlihat bahwa perempuan memiliki tingkat harapan hidup lebih lama dibandingkan laki-laki. Padahal, rata-rata perempuan memiliki masa kerja lebih singkat dibandingkan laki-laki yang berarti peluang untuk mempersiapkan dana pensiun lebih kecil. Statistik tersebut secara jelas memberikan suatu pernyataan bahwa mempersiapkan dana pensiun, khususnya bagi perempuan, sangatlah penting.
Perhatikan angka-angka penting
|
|
Seiring berjalannya waktu, jumlah penduduk akan terus bertambah, namun sumber daya yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan semakin berkurang sehingga dihindari ataupun tidak, inflasi tetap akan terus berjalan.
Sebagai ilustrasi, apabila Anda saat ini berusia 30 tahun dengan jumlah pengeluaran rutin per bulan senilai Rp 5 juta, maka dalam satu tahun jumlah pengeluaran rutin Anda mencapai sekitar Rp 60 juta.
Jika Anda berencana pensiun di usia 55 tahun, angka Rp 60 juta ini akan setara dengan Rp 650 juta nilai masa yang akan datang dengan asumsi tingkat inflasi sebesar 10%. Anda mungkin akan menolak angka 10% sebagai asumsi tingkat inflasi dalam perhitungan ini mengingat angka inflasi saat ini masih terjaga dalam single digit.
Tapi, mari kita lihat lagi kumpulan barang dan jasa yang masuk dalam perhitungan inflasi pemerintah. Banyak barang ataupun jasa yang sebenarnya jarang atau bahkan tidak pernah kita konsumsi. Salah satu contohnya, misalnya Anda bukan perokok dan tidak pernah membeli rokok, maka naik atau turunnya harga rokok tidak akan mempengaruhi kocek di dompet Anda.
Sementara, dalam perhitungan inflasi pemerintah, rokok menjadi salah satu komponen dalam basket of goods and services. Oleh sebab itu, muncul istilah personal inflation di mana basket of goods and services di dalamnya berisi barang dan jasa yang memang hanya dikonsumsi oleh Anda sendiri dan nilainya cenderung lebih tinggi dibandingkan angka inflasi pemerintah.
Halaman 2 dari 3











































