Kata Siapa Asuransi Jahat? Ingat 4D Ini

Kata Siapa Asuransi Jahat? Ingat 4D Ini

Herdaru Purnomo - detikFinance
Kamis, 31 Okt 2013 10:10 WIB
Kata Siapa Asuransi Jahat? Ingat 4D Ini
Jakarta - Tidak banyak masyarakat yang mengetahui pada 18 Oktober kemarin merupakan Hari Asuransi. Meskipun bukan hari libur nasional, dalam Hari Asuransi ini tersirat banyak makna pentingnya berasuransi.

"Ya, kata asuransi memang bukan sesuatu yang nyaman ditelinga segelintir orang. Asuransi itu ibarat nasehat orang tua. Kala kondisi kita baik-baik saja, asuransi tidak kita hiraukan," kata Assistant Vice President Head of Investment, Bancassurance, and Treasury Products Commonwealth, Rheza Karyanto dalam keterangannya kepada detikFinance, Kamis (31/10/2013).

Ditambah, berita miring mengenai klaim asuransi yang tak dibayar perusahaan hingga masalah gagal bayar kerap mewarnai berita industri asuransi. Padahal, menurut Rheza, asuransi bisa menjadi teman baik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada saatnya asuransi sangat diperlukan. Supaya tidak menyesal dikemudian hari, kita perlu perencanaan dan memahami pentingnya asuransi dalam 4 dimensi risiko atau disingkat 4D," kata Rheza.
Β 
Empat dimensi risiko tersebut antara lain:

Death

Semua orang akan mengalami kematian, tetapi tidak ada yang menginginkannya lebih awal. Tujuan memiliki asuransi bukanlah semata-mata agar hal itu tidak terjadi, tetapi yang lebih penting adalah untuk memastikan orang lain tetap hidup.

Inilah mengapa dalam memilih produk asuransi perlu memastikan nilai UP atau Uang Pertanggungan yang cukup untuk membiayai kebutuhan orang-orang yang dicintai kelak.

Disability

Musibah, penyakit, dan kecelakaan dapat menghampiri siapapun dan kapanpun. Kejadian ini dapat berujung pada ketidakmampuan seseorang untuk bekerja kembali dan mendapatkan penghasilan rutin. Karena itu dalam perencanaan keuangan, seseorang perlu memiliki asuransi agar rencana investasi dirinya, misalnya untuk pendidikan anak atau pensiun, tidak terganggu.

Debt

Berutang tidak selalu berarti buruk. Utang dapat menjadi sahabat dalam berinvestasi, misalnya untuk membeli rumah atau membiayai modal usaha. Namun perlu disadari adanya risiko untuk dapat melunasinya. Musibah seperti banjir, kebakaran, gempa, huru-hara, dan lain-lain dapat merusak aset dan menyebabkan kerugian yang tidak sedikit. Memiliki asuransi jiwa dan asuransi umum akan melindungi kekayaan dan menjaga kemampuan untuk membayar utang.

Divorce

Perceraian sudah bukan hal yang langka di Indonesia. Berita infotainment banyak menyuguhkan cerita-cerita mengenai perceraian yang berakhir pada perebutan kekayaan dari pasangan dan anak-anaknya. Dalam konsep asuransi dikenal istilah beneficiary atau ahli waris, di mana pemilik polis asuransi akan menentukan siapa penerima atau ahli waris dari nilai Uang Pertanggungan jika terjadi risiko kematian. Dengan demikian, seseorang dapat memastikan orang yang dicintai mendapatkan warisan, yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun jika terjadi perceraian.

"Semakin memahami 4 dimensi risko ini, semakin kita tahu indahnya memiliki asuransi," tutup Rheza.

(dru/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads